Oleh: Rama Bagas Fikriyana, Mahasiswa Universitas Yuppentek Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
TANGERANGNEWS.com-Intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan beberapa wilayah di Tangerang terdampak banjir dan macet di berbagai titik hampir selalu muncul setiap musim hujan datang. Hujan deras turun, air meluap, jalan tergenang, lalu kemacetan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tapi ketika kalimat yang sama terus diulang setiap tahun, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: apakah banjir dan macet memang murni karena hujan, atau ada persoalan lain yang sebenarnya belum selesai?
Di wilayah Kota Tangerang maupun Kabupaten Tangerang, hujan deras hampir selalu diikuti laporan genangan di jalan utama, kawasan permukiman, sampai akses penghubung antarwilayah. Dampaknya bukan hanya banjir, tapi juga kemacetan panjang yang membuat aktivitas masyarakat tersendat. Perjalanan yang biasanya singkat bisa berubah menjadi berjam jam hanya karena beberapa titik jalan tergenang air.
Memang benar, curah hujan tinggi adalah faktor alam yang tidak bisa dikendalikan. hujan sendiri bukan hal baru, musim hujan datang setiap tahun dengan pola yang sebenarnya bisa diperkirakan. Ketika dampaknya selalu sama terdampak banjir dan macet di titik yang hampir serupa, maka persoalannya bukan lagi sekedar soal cuaca, melainkan kesiapan infrastruktur menghadapi kondisi tersebut.
Sering kali genangan terjadi bukan semata karena banyaknya air, tetapi karena sistem drainase yang tidak mampu menampung aliran dengan baik. Saluran tersumbat sampah, kapasitas drainase terbatas, atau pembangunan yang mengurangi area resapan membuat air kehilangan jalur alaminya. Akhirnya, jalan raya berubah fungsi menjadi tempat penampungan sementara setiap kali hujan deras turun.
Kemacetan pun muncul sebagai efek berantai. Ketika satu ruas jalan tergenang, kendaraan melambat atau mencari jalur lain. Titik macet kemudian menyebar ke wilayah yang sebenarnya tidak terdampak banjir secara langsung. Dalam situasi seperti ini, hujan hanya menjadi pemicu awal, sementara persoalan utamanya ada pada kesiapan kota dalam mengelola air dan mobilitas secara bersamaan.
Kalimat “intensitas hujan tinggi” akhirnya terasa sederhana untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya kompleks. Seolah olah alam menjadi penyebab utama, padahal tata kota, perencanaan drainase, dan pengelolaan lingkungan punya peran yang sama besar. Tanpa disadari, kalimat itu juga membuat banjir terlihat seperti sesuatu yang wajar dan tak terhindarkan.
Padahal banyak di kota lain, hujan deras tidak selalu berujung pada banjir besar atau kemacetan parah. Perbedaannya ada pada kesiapan infrastruktur dan perawatan yang konsisten. Drainase yang terjaga, ruang resapan yang cukup, serta pengaturan lalu lintas yang adaptif mampu menekan dampak hujan secara signifikan.
Bagi masyarakat Tangerang, banjir dan macet saat hujan bukan sekedar persoalan teknis, tapi pengalaman yang melelahkan setiap tahun. Aktivitas terganggu, pekerjaan tertunda, dan resiko kecelakaan meningkat. Ketika situasi ini terus berulang, muncul rasa frustrasi karena masalah yang sama terasa tidak pernah benar benar diselesaikan.
Bukan berarti hujan harus sepenuhnya disalahkan, tapi menjadikannya satu satunya alasan juga tidak cukup. Hujan adalah kenyataan alam, sementara dampaknya sangat bergantung pada bagaimana kota dikelola. Jika setiap tahun narasi yang muncul tetap sama, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya cuaca, melainkan sistem yang seharusnya mampu mengantisipasi.
Pada akhirnya, kalimat tentang intensitas hujan seharusnya menjadi awal refleksi, bukan akhir penjelasan. Banjir dan kemacetan bukan sekedar konsekuensi musim, tetapi tanda bahwa masih ada pekerjaan besar dalam pengelolaan kota. Selama hujan masih identik dengan banjir dan macet, masyarakat akan terus berada dalam siklus yang sama dan menunggu air surut, menunggu jalan kembali lancar, dan menunggu perubahan yang belum sepenuhnya selesai.