Bayi Sulit Menyusu Belum Tentu Tongue Tie, Ini Penjelasan Dokter
Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:36
Bayi yang kesulitan menyusu memang kerap membuat orang tua khawatir, terlebih ketika muncul dugaan tongue tie atau kondisi yang membatasi gerakan lidah.
TANGERANGNews.com-PT Angkasa Pura II mulai membangun tower Apron Movement Control (AMC) di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Hal itu dikemukakan Dirctor Finance PT Angkasa Pura II, Andra Y Agussalam pada Jumat (1/7). Dia mengatakan, pihaknya sudah menganggarkan biaya pembangunan tower tersebut.
"Biaya-nya dari kita, relatif tidak mahal, sekitar Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar, " kata Andra saat ditemui di kantornya.
Andra menuturkan, biaya tersebut digunakan untuk pembangunan fisik beserta pembelian fasilitas pendukung menara pemantau tersebut. "Detailnya saya tidak hafal, yang jelas akan ada sejumlah instrumen untuk membantu memantau penerbangan dan alat komunikasi. Tinggi menaranya 22 meter, lokasinya di Terminal 3, " ujarnya.
Untuk diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelumnya urung mengizinkan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta beroperasi karena pergerakan pesawatnya tidak bisa terpantau menara Air Traffic Controller (ATC).
Kemenhub juga sudah sempat menyewakan sebuah mobile tower, namun akhirnya ditarik lagi karena tidak bisa berfungsi dengan baik.
Bayi yang kesulitan menyusu memang kerap membuat orang tua khawatir, terlebih ketika muncul dugaan tongue tie atau kondisi yang membatasi gerakan lidah.
TODAY TAGSolana memasuki akhir 2026 dengan sejumlah katalis yang dapat menentukan arah harga SOL. Pertumbuhan ekosistem, aktivitas jaringan, pengembangan aplikasi terdesentralisasi, serta kondisi pasar kripto menjadi faktor fundamental yang perlu
Orang tua mana yang tidak hancur hatinya, ketika melihat anaknya tersakiti? Terlebih jika peristiwa menyakitkan itu terjadi di lingkungan sekolah, tempat yang semestinya menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, bertumbuh
Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews