Connect With Us

Rekonstruksi Siswi SMK yang Dipukuli Seniornya Digelar Besok

| Jumat, 11 Maret 2011 | 16:31

Dayang Cantika (15) siswi Kelas 1 SMK PGRI Jelupang, Tangerang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang setelah diduga dianiyaya senior paskibraka. (tangerangnews / dira)

 
 
TANGERANG- Kasus Dayang Cantika ,15, siswi Kelas 1 SMK PGRI Jelupang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang yang dianiaya oleh lima orang seniornya hingga hari ini belum juga ada tersangkanya. Sebab, seluruh saksi bungkan dan enggan mengatakan kebenaran peristiwa pemukulan itu. Akibatnya, polisi  akan menggelar rekonstruksinya pada Sabtu (12/03/2011) sekitar pukul 10.00 WIB.
 
“Kami akan gelar rekonstruksi besok. Karena keterangan saksi tidak ada yang mengakui bahwa ada pemukulan terhadap korban. Anisa yang dilaporkan sering melakukan pemukulan terhadap Dayang juga tetap tidak mau mengakuinya,” terang Kapolsek Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, AKP Amien, ketika dihubungi, hari ini.
 
Selain melakukan rekonstruksi, Amien juga mengaku meski terlambar,  pihaknya akan memaninggil kepala sekolah korban. “Kita harus panggil kepala sekolah, karena kita harus mengetahui, ada izin atau tidak kegiatan Paskibra ini,” cetus Amien.  
 
Seperti diketahui, berdasarkan visum dokter dari RS Mulia Insani yakni dr Nathan. Didapati kesimpulan, bahwa ada trauma jaringan pada pinggang kanan , perut kanan atas, lengan bawah kanan dan kiri yang disebabkan benda tumpul. Perut samping kanan bengkak dan lengan bawahn kanan juga bengkak 5x4 cm.  
 
Sementara itu, Sulaiman ayah Dayang Cantika, ketika dihubungi mengatakan, anaknya semalam dikonfrontir oleh senior yang memukulnya. “Anak saya dipanggil lagi sama kapolsek. Terus ditemui sama seniornya, saya tidak boleh menemani. Aneh, kok bisa anak saya kan masih kecil. Kalau ditakut-takuti yang makin takut dia sama seniornya,” kata Sulaiman.
 
eristiwa nahas ini menimpa Dayang pada tanggal 19 Februari 2011. Saat itu seniornya, cowok maupun cewek menganiayanya hanya karena ia disuruh push-up 100 kali, namun ia tak mampu melakukannya. Dia dinjak-injak oleh  kakak pembina Paskibra-nya di SD Bantar Panjang, Tigaraksa.
Karena tidak kuat, celana Dayang diangkat kemudian dia dibanting ke tanah, kemudian dipukuli dan digampar, seraya diinjak-injak.

Kejadian itu disaksikan langsung oleh 2 teman Dayang, yakni Ayu Taradipa dan Sayeti. Akibat penganiayaan itu, ulu hati Dayang terasa sakit, serta tangannya yang susah digerakkan. Bahkan saat hendak pulang ke rumah, Dayang harus diantar oleh teman-temannya.

Keesokan harinya, Jumiati membawa Dayang ke RS Mulya Insani Cikupa, Kabupaten Tangerang.  Karena melihat kondisi korban, pihak RS meminta keluarga agar korban di rawat inap. Namun, Jumiati enggan anaknya di rawat inap karena belum berunding dengan ayah Dayang, Sulaiman. Hingga akhirnya korban dirujuk pada 1 Maret 2011 ke RSUD Kabupaten Tangerang (DIRA DERBY)

PROPERTI
Penghuni Paramount Petals Bertambah, Klaster Lily Mulai Diserahterimakan ke Konsumen

Penghuni Paramount Petals Bertambah, Klaster Lily Mulai Diserahterimakan ke Konsumen

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:29

Pengembangan kawasan hunian Paramount Petals memasuki babak baru. Setelah hampir dua tahun dipasarkan, pengembang mulai menyerahkan kunci rumah kepada para pembeli di Klaster Lily.

KAB. TANGERANG
Sudah 6 Hari Terbakar, Hujan Buatan untuk TPA Jatiwaringin Malah Tertunda Akibat Hal Ini

Sudah 6 Hari Terbakar, Hujan Buatan untuk TPA Jatiwaringin Malah Tertunda Akibat Hal Ini

Minggu, 5 Juli 2026 | 19:50

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk penanganan kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) harus ditunda kembali.

TOKOH
Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:53

Slamet Suradio, masinis yang selamat dari peristiwa tabrakan kereta api dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia pada Rabu, 3 Juni 2026, dini hari.

OPINI
Melawan Patrimonialisme dalam Gerakan Muhammadiyah, Sebuah Otokritik

Melawan Patrimonialisme dalam Gerakan Muhammadiyah, Sebuah Otokritik

Sabtu, 4 Juli 2026 | 22:29

Dalam khazanah sosiologi organisasi, Muhammadiyah sedianya merupakan antitesis bagi tradisi patrimonial. Persyarikatan ini berdiri di atas fondasi otoritas legal-rasional, di mana legitimasi kepemimpinan berakar pada kompetensi dan kaderisasi

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill