TANGERANGNEWS.com-Marah hebat, stres berat, hingga kecemasan berlebihan sering kali dianggap sebatas persoalan emosional atau psikologis biasa.
Padahal, ledakan emosi tidak hanya memengaruhi kondisi pikiran, tetapi juga dapat berdampak langsung pada kesehatan jantung dan berpotensi memicu serangan jantung mendadak.
Saat seseorang mengalami stres emosional, tubuh secara alami merespons dengan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Pelepasan hormon ini menyebabkan detak jantung berpacu lebih cepat, tekanan darah melonjak, dan pembuluh darah menyempit.
Bagi individu yang memiliki riwayat penyakit jantung koroner, perubahan mendadak ini memberi beban ekstra pada sistem kardiovaskular.
Lonjakan tekanan darah dan denyut jantung dapat menyebabkan pecahnya plak pada dinding pembuluh darah koroner, yang kemudian membentuk sumbatan aliran darah menuju otot jantung.
Penjelasan Dokter Spesialis Jantung
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Hana Soraya, BMedSci (Hons), Sp.JP(K), FIHA, menegaskan bahwa stres emosional memang menjadi salah satu pemicu utama munculnya serangan jantung.
“Salah satu gejala dari serangan jantung adalah nyeri dada yang khas, seperti diremas, ditekan, ataupun diikat, yang muncul secara tiba-tiba. Salah satu pemicunya bisa stres emosional,” ungkap dr. Hana dalam siaran podcast bersama RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Rabu 23 September 2026.
Ia menambahkan, jika stres emosional berlangsung dalam jangka panjang (kronis), proses peradangan dan tekanan darah tinggi dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah.
"Risiko serangan jantung akan jauh meningkat jika seseorang juga memiliki faktor risiko lain seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok," tambah dr. Hana.
Bukan hanya amarah, kata dr. Hana, bentuk emosi lain seperti kesedihan yang mendalam, kecemasan berlebihan, hingga tekanan pekerjaan juga perlu diwaspadai karena memiliki efek serupa pada organ jantung.
Jangan Keliru Membedakan dengan Masuk Angin
Menurut dr. Hana, sering kali, masyarakat menganggap sepele gejala nyeri dada dan mengira hanya sebagai kelelahan atau "masuk angin".
Untuk itu, masyarakat diimbau untuk segera mencari bantuan medis jika merasakan sejumlah tanda bahaya berikut:
- Nyeri dada mendadak seperti ditekan, diremas, atau tertindih beban berat.
- Rasa nyeri yang menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, hingga punggung.
- Sesak napas tiba-tiba.
- Keluar keringat dingin, disertai mual atau lemas secara mendadak.
Menjaga kesehatan jantung tidak hanya sebatas mengatur pola makan dan rutin berolahraga. Kemampuan mengelola emosi, istirahat yang cukup, serta memiliki dukungan sosial yang baik merupakan pilar penting dalam menjaga fungsi kardiovaskular.
"Selain itu, masyarakat disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan jantung secara berkala melalui rekam jantung (EKG), treadmill test, maupun evaluasi risiko kardiovaskular untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini sebelum terlambat," tutup dr. Hana.