Connect With Us

Pendidikan sebagai Perlawanan Perempuan terhadap Kemiskinan Struktural

Rangga Agung Zuliansyah | Senin, 12 Januari 2026 | 20:30

Alpun Hasanah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Tangerang. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh: Alpun Hasanah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Tangerang

 

TANGERANGNEWS.com-Kemiskinan tidak pernah benar-benar netral. Ia punya wajah, dan sering kali wajah itu adalah perempuan. Ketika kemiskinan terjadi, perempuan biasanya menjadi pihak yang paling dulu mengalah, paling lama bertahan, dan paling sedikit didengar. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem sudah lama menempatkan mereka di posisi yang serba terbatas.

Bagi banyak perempuan, kemiskinan bukan hanya soal tidak punya uang. Ia hadir dalam bentuk akses pendidikan yang terputus, kesempatan kerja yang sempit, dan tuntutan sosial yang mengekang. Sejak kecil, banyak anak perempuan diajarkan untuk memahami batas: jangan terlalu tinggi bermimpi, jangan terlalu jauh melangkah, jangan terlalu sibuk sekolah jika pada akhirnya “akan kembali ke dapur”. Kalimat-kalimat semacam ini mungkin terdengar biasa, tapi diam-diam membentuk masa depan.

Di tengah kondisi seperti itu, pendidikan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar belajar di kelas. Bagi perempuan, pendidikan adalah cara bertahan. Cara untuk memahami dunia, membaca ketidakadilan, dan perlahan menyadari bahwa kemiskinan yang dialami bukan sepenuhnya kesalahan diri sendiri. Pendidikan memberi perempuan keberanian untuk bertanya: mengapa aku harus berhenti sekolah? mengapa pilihanku selalu dibatasi? mengapa hidupku seolah sudah ditentukan sejak lahir?

Perempuan yang berpendidikan memiliki satu hal penting: pilihan. Pilihan untuk bekerja, untuk mandiri secara ekonomi, untuk tidak sepenuhnya bergantung pada siapa pun. Pilihan ini sangat berarti, terutama bagi perempuan dari keluarga miskin. Ketika seseorang punya penghasilan sendiri, ia punya suara. Ia bisa berkata tidak pada kekerasan, penindasan, dan hubungan yang tidak sehat. Dalam konteks ini, pendidikan bukan kemewahan, melainkan alat perlindungan diri.

Namun, jalan menuju pendidikan tidak pernah mudah bagi perempuan miskin. Banyak yang harus sekolah sambil bekerja, belajar sambil mengurus rumah, atau tetap bertahan meski diremehkan. Ada yang dipaksa berhenti karena biaya, ada yang dipaksa menikah karena dianggap “lebih realistis”. Setiap kali seorang perempuan tetap memilih pendidikan di tengah keterbatasan itu, sesungguhnya ia sedang melawan sistem yang ingin menjatuhkannya.

Sayangnya, negara sering kali melihat pendidikan perempuan hanya sebagai angka partisipasi sekolah, bukan sebagai upaya memutus rantai kemiskinan. Bantuan sosial datang dan pergi, tetapi tanpa pendidikan, perempuan tetap berada di posisi rentan. Tanpa akses pendidikan yang adil dan berkualitas, kemiskinan akan terus diwariskan, dari ibu ke anak perempuan, dari generasi ke generasi.

Yang sering dilupakan, perempuan terdidik tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Ia membawa perubahan ke sekelilingnya. Ia lebih sadar tentang kesehatan, pendidikan anak, dan hak-haknya sebagai warga negara. Satu perempuan yang berdaya bisa menjadi fondasi bagi satu keluarga yang lebih kuat. Di sinilah pendidikan bekerja secara pelan, tetapi dampaknya panjang.

Maka, membicarakan pendidikan sebagai perlawanan perempuan terhadap kemiskinan struktural berarti mengakui satu hal sederhana: perempuan tidak butuh dikasihani. Mereka butuh kesempatan yang adil. Mereka butuh ruang untuk belajar, tumbuh, dan menentukan hidupnya sendiri.

Selama pendidikan masih sulit dijangkau oleh perempuan miskin, selama mimpi mereka masih dipatahkan oleh keadaan dan budaya, maka kemiskinan akan terus menemukan korban. Dan selama itu pula, pendidikan akan tetap menjadi bentuk perlawanan paling sunyi, tetapi paling kuat, yang dimiliki perempuan.

SPORT
Spanyol Rebut Gelar dari Argentina, Ferran Torres Akhiri Perlawanan Tim Tango di Final Piala Dunia 2026

Spanyol Rebut Gelar dari Argentina, Ferran Torres Akhiri Perlawanan Tim Tango di Final Piala Dunia 2026

Senin, 20 Juli 2026 | 07:04

Spanyol berhasil merebut trofi Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan juara bertahan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada laga final yang berlangsung di New Jersey, Amerika Serikat, Senin, 20 Juli 2026, dini hari WIB.

KOTA TANGERANG
HUT ke-81 RI, Pemkot Tangerang Sediakan Paket Sembako Murah Rp95 Ribuan

HUT ke-81 RI, Pemkot Tangerang Sediakan Paket Sembako Murah Rp95 Ribuan

Selasa, 21 Juli 2026 | 17:30

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM).

NASIONAL
Pertamina Belum Keluarkan Larangan Suzuki Thunder Isi BBM Bersubsidi

Pertamina Belum Keluarkan Larangan Suzuki Thunder Isi BBM Bersubsidi

Senin, 20 Juli 2026 | 18:14

Ramainya pemberitaan mengenai larangan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi pemilik sepeda motor Suzuki Thunder di sejumlah SPBU wilayah, akhirnya mendapat tanggapan resmi dari Pertamina Patra Niaga.

OPINI
Puan Maharani Minta Evaluasi Sekolah Sepi Murid: Cermin Ketimpangan Akses dan Mutu Pendidikan

Puan Maharani Minta Evaluasi Sekolah Sepi Murid: Cermin Ketimpangan Akses dan Mutu Pendidikan

Minggu, 19 Juli 2026 | 22:26

Bangku-bangku kosong di ruang kelas sekolah negeri kini bukan lagi pemandangan yang hanya ditemukan di daerah terpencil. Fenomena tersebut mulai terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kota-kota yang selama ini dikenal memiliki akses

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill