Connect With Us

Kritik Perempuan Bukan Ancaman, Tapi Cermin Negara

Rangga Agung Zuliansyah | Selasa, 13 Januari 2026 | 18:42

Alpun Hasanah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Tangerang. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh: Alpun Hasanah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Tangerang

 

TANGERANGNEWS.com-Setiap kali perempuan bersuara mengkritik pemerintah, negara selalu mengatakan hal yang sama: kritik itu sah, demokrasi dijamin. Tapi kenyataan di lapangan sering berkata sebaliknya. Perempuan yang terlalu lantang, terlalu jujur, atau terlalu berani kerap berakhir di satu tempat yang sama: diperiksa, diintimidasi, bahkan ditangkap. Di titik ini, kritik tidak lagi diperlakukan sebagai masukan, melainkan sebagai gangguan yang harus diamankan.

Perempuan mengkritik bukan karena ingin ribut. Mereka bicara karena hidup mereka langsung terdampak. Soal pendidikan yang makin mahal, bantuan yang tak sampai, kekerasan yang tak kunjung tuntas, sampai kebijakan yang dibuat tanpa memahami beban perempuan di rumah dan di ruang kerja. Kritik itu lahir dari pengalaman sehari-hari, bukan dari ambisi politik. Tapi anehnya, pengalaman hidup perempuan sering dianggap lebih berbahaya daripada kekuasaan yang keliru.

Yang paling menyakitkan, ketika perempuan ditangkap, narasi yang dibangun hampir selalu sama: melanggar aturan, mengganggu ketertiban, menyebarkan keresahan. Seolah-olah keresahan tidak pernah lebih dulu lahir dari kebijakan yang tidak adil. Seolah-olah suara perempuan adalah sumber masalah, bukan akibat dari masalah yang sudah lama dibiarkan.

Di titik ini, negara terlihat alergi pada cermin. Kritik perempuan adalah cermin yang menunjukkan wajah negara apa adanya—tanpa riasan pidato, tanpa angka statistik yang dipoles. Cermin itu memang tidak selalu menyenangkan. Tapi memecahkan cermin tidak akan mengubah wajah. Menangkap perempuan yang mengkritik tidak akan menghapus ketimpangan, tidak akan membuat kebijakan lebih adil, dan tidak akan menyelesaikan masalah yang mereka suarakan.

Ironisnya, perempuan sering diminta berpartisipasi dalam demokrasi. Didorong untuk “melek politik”, “aktif menyuarakan pendapat”, dan “berani bersuara”. Namun ketika suara itu benar-benar keluar dan tidak sejalan dengan kekuasaan, responnya berubah drastis. Partisipasi diterima selama ia jinak. Kritik diterima selama ia tidak terlalu jujur.

Penangkapan terhadap perempuan yang mengkritik bukan hanya persoalan hukum, tetapi persoalan moral politik. Negara sedang mengirim pesan: berbicaralah, tapi tahu batas. Suarakan pendapatmu, tapi jangan menyentuh inti masalah. Pesan ini pelan-pelan membunuh keberanian, terutama bagi perempuan yang sejak awal sudah diajarkan untuk tidak banyak bicara.

Padahal, negara yang kuat tidak takut pada kritik. Negara yang percaya diri tidak perlu membungkam. Kritik perempuan bukan ancaman bagi stabilitas, justru penopang demokrasi. Ia mengingatkan bahwa ada kebijakan yang menyakiti, ada warga yang dilupakan, dan ada ketidakadilan yang belum selesai.

Jika setiap kritik perempuan berujung pada penangkapan, maka yang sedang runtuh bukan ketertiban, melainkan kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, yang tersisa hanya ketakutan dan diam. Demokrasi tidak mati karena kritik, tetapi karena terlalu banyak suara yang dipaksa diam.

Kritik perempuan adalah cermin negara. Menangkap mereka berarti menolak bercermin. Dan negara yang menolak bercermin akan terus mengulang kesalahan yang sama, sambil heran mengapa rakyatnya semakin jauh dan semakin takut untuk berbicara.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

BANTEN
25 Tahun Dibiarkan Rusak, Pemprov Banten Akhirnya Perbaiki Jembatan Piano Penghubung Serang-Tangerang

25 Tahun Dibiarkan Rusak, Pemprov Banten Akhirnya Perbaiki Jembatan Piano Penghubung Serang-Tangerang

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:21

Setelah penantian selama 25 tahun, perbaikan Jembatan Piano yang menghubungkan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang akhirnya mulai dikerjakan.

TEKNO
RS Mandaya Datangkan Da Vinci Xi, Robot Bedah Berteknologi Tinggi dengan Empat Lengan 

RS Mandaya Datangkan Da Vinci Xi, Robot Bedah Berteknologi Tinggi dengan Empat Lengan 

Senin, 20 Juli 2026 | 10:15

RS Mandaya Royal Puri resmi menghadirkan robot bedah Da Vinci Xi, teknologi kesehatan terbaru yang diklaim mampu meningkatkan presisi operasi sekaligus mengurangi kebutuhan tindakan bedah dengan sayatan besar.

WISATA
8 Tahun Dibangun, Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati Jadi Destinasi Wisata Baru di Tangerang

8 Tahun Dibangun, Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati Jadi Destinasi Wisata Baru di Tangerang

Selasa, 21 Juli 2026 | 15:46

Kabupaten Tangerang kini memiliki destinasi wisata religi, budaya, dan edukasi baru yang sarat akan nilai toleransi.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill