Petugas Sekuriti Serang Banten Bawa Pulang Mobil Hadiah Viu x Telkomsel
Rabu, 29 April 2026 | 20:56
Keberuntungan luar biasa menghampiri Muhamad Rizal Ramdani, seorang petugas keamanan (sekuriti) asal Serang, Banten.
Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi tinggal di Yogyakarta
TANGERANGNEWS.com-Penutupan Selat Hormuz kembali menegaskan satu hal yang kerap luput dari kesadaran kita: dunia modern tidak sepenuhnya berdiri di atas fondasi yang kokoh. Di tengah kemajuan teknologi dan kompleksitas sistem global, ternyata ada titik-titik sempit yang justru menentukan arah peradaban. Selat Hormuz adalah salah satunya. Ia bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan “leher botol” yang mengendalikan aliran energi dunia.
Dalam lintasan sempit itulah, sebagian besar distribusi minyak global melewati ruang yang secara geografis terbatas, tetapi secara strategis sangat menentukan. Ketika jalur ini terbuka, dunia terasa stabil. Namun, ketika ia terganggu, kita segera menyadari bahwa stabilitas itu lebih menyerupai ketenangan yang rapuh daripada kekuatan yang sesungguhnya. Dunia yang tampak luas ternyata bertumpu pada celah yang sempit.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana jalur sempit ini dapat berubah menjadi panggung besar perebutan kepentingan. Energi, dalam konteks ini, tidak lagi berdiri sebagai komoditas ekonomi semata, tetapi telah menjelma menjadi instrumen politik global. Setiap eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dunia.
Bagi Indonesia, peristiwa ini bukanlah sesuatu yang jauh dan abstrak. Ketergantungan terhadap impor energi membuat kita ikut terikat pada dinamika yang berlangsung di kawasan tersebut. Apa yang terjadi di Selat Hormuz dapat dengan cepat menjalar ke dalam negeri: harga bahan bakar yang berpotensi meningkat, biaya logistik yang membengkak, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat. Dalam dunia yang saling terhubung, jarak geografis tidak lagi menjadi batas yang berarti.
Di sinilah konsep kedaulatan energi patut dipertanyakan. Selama ini, kedaulatan sering dipahami sebagai kemampuan untuk mengelola sumber daya yang ada di dalam negeri. Namun, peristiwa di Selat Hormuz menunjukkan bahwa kedaulatan tidak berhenti pada produksi. Ia juga menyangkut kemampuan untuk menjamin distribusi yang aman dan stabil. Tanpa itu, kedaulatan hanya akan menjadi gagasan normatif yang tidak sepenuhnya berakar pada realitas.
Lebih jauh, fenomena “leher botol” ini mengungkap paradoks globalisasi. Di satu sisi, globalisasi menciptakan efisiensi melalui keterhubungan yang luas. Di sisi lain, ia juga melahirkan ketergantungan yang dalam. Ketika distribusi dipusatkan pada titik-titik tertentu, efisiensi meningkat, tetapi ketahanan melemah. Dunia menjadi cepat, tetapi tidak selalu tangguh. Dalam kondisi seperti ini, gangguan kecil dapat menjelma menjadi krisis besar.
Di balik narasi besar tersebut, terdapat dimensi kemanusiaan yang sering terabaikan. Para awak kapal yang harus bertahan di tengah ketegangan bukan sekadar bagian dari sistem logistik global. Mereka adalah individu yang menghadapi ketidakpastian dan risiko yang tidak mereka pilih. Dalam arti tertentu, Selat Hormuz tidak hanya menjadi “leher botol” bagi aliran energi, tetapi juga ruang sempit bagi rasa aman manusia.
Situasi ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi Indonesia. Ketergantungan terhadap jalur distribusi yang rentan menuntut adanya langkah-langkah strategis yang lebih serius. Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan nasional, serta percepatan pengembangan energi terbarukan tidak lagi bisa ditunda. Tanpa upaya tersebut, setiap gejolak di Selat Hormuz akan terus menjadi ancaman yang berulang bagi stabilitas nasional.
Selain itu, peran diplomasi juga menjadi semakin penting. Dalam dunia yang saling terhubung, stabilitas tidak dapat dicapai secara sepihak. Indonesia perlu memperkuat posisinya dalam mendorong terciptanya keamanan jalur pelayaran internasional. Meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas tersebut, baik untuk kepentingan ekonomi maupun keamanan nasional.
Pada akhirnya, Selat Hormuz adalah cermin dari cara dunia modern membangun dirinya. Ia memperlihatkan bahwa efisiensi sering kali dibayar dengan kerentanan, dan keterhubungan tidak selalu berarti ketahanan. Dunia yang tampak stabil ternyata menyimpan potensi krisis yang sewaktu-waktu dapat muncul dari titik yang paling sempit.
Maka, setiap kali Selat Hormuz bergejolak, yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya stabilitas kawasan, tetapi juga ketahanan sistem global itu sendiri. Bagi Indonesia, peristiwa ini semestinya menjadi pengingat bahwa kedaulatan energi tidak cukup dibangun di atas retorika, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan yang konkret dan berkelanjutan.
Jika tidak, kita akan terus hidup dalam ilusi stabilitas, merasa aman ketika arus mengalir, tetapi rapuh ketika aliran itu terhenti. Dan dalam dunia yang semakin tidak pasti, ilusi semacam itu bukanlah kemewahan, melainkan risiko yang harus segera diakhiri.
Keberuntungan luar biasa menghampiri Muhamad Rizal Ramdani, seorang petugas keamanan (sekuriti) asal Serang, Banten.
TODAY TAGPemerintah Provinsi (Pemprov) Banten meluncurkan program pembayaran berbasis QRIS untuk akses transportasi menuju kawasan wisata Baduy.
Saat ini Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) SMA, SMK dan SKh Negeri 2026-2027 di Provinsi Banten memasuki tahapan Pra SPMB yang berlangsung sejak 20 April 2026 hingga 31 Mei 2026.
Dalam rangka menyambut Bulan Autisme Sedunia, VIVERE Hotel, ARTOTEL Curated bekerja sama dengan Matalesoge HospitABLElity Academy menggelar pameran seni bertajuk “You See Me and I Feel You”, yang berlangsung pada 24 April
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews