TANGERANGNEWS.com- Musisi asal Gunung Kawi, Matoha Mino, merilis lagu berjudul Gunung Kawi sebagai bentuk respons terhadap persepsi yang menurutnya keliru dan telah lama berkembang di masyarakat terkait stigma tentang Gunung Kawi yang kerap dilekatkan dengan kesan angker, mistis, hingga praktik pesugihan.
Matoha menuturkan gagasan lagu tersebut telah muncul sejak hampir dua dekade lalu, ketika ia kerap mendengar berbagai cerita negatif tentang daerah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
“Ide lagu ini sebenarnya sudah mengendap di kepala saya sejak 2005–2008, waktu itu sering banget dengar orang-orang bilang ‘Gunung Kawi itu tempat pesugihan, jangan ke sana nanti ketemu tuyul, genderuwo dan setan’,” katanya Jumat, 9 Januari 2026.
Ia mengaku merasa terganggu karena citra tersebut terus direproduksi melalui film horor dan tayangan sinetron.
Melalui lagu ini, Matoha berusaha menampilkan sisi lain Gunung Kawi sebagai kawasan ziarah sejarah.
Ia menyebut Gunung Kawi sebagai tempat peristirahatan Eyang Djieogo dan Eyang Soejono atau RM Imam Soedjono, yang dikenal sebagai bagian dari laskar Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.
“Gunung Kawi bukan tempat pesugihan. Ini tempat ziarah, tempat berdoa, tempat wisata ritual yang bahkan dikunjungi tamu mancanegara,” tegasnya.

Pesan utama yang ingin disampaikan dalam lagu tersebut adalah ajakan untuk memahami makna doa yang sebenarnya, yakni berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa meninggalkan ikhtiar.
Matoha menilai ziarah hanyalah satu dari banyak nilai yang dimiliki Gunung Kawi, dan masih terdapat berbagai aspek sejarah serta budaya yang dapat diperkenalkan melalui pendekatan seni.
Dalam proses penggarapannya, Matoha kembali mengeksplorasi unsur musik tradisional Jawa.
Jika sebelumnya dikenal sebagai penggagas soundtrack film KKN Desa Penari, kali ini ia memadukan gamelan dengan nuansa musik Islami melalui iringan terbang rebana.
Penulisan lirik berlangsung sekitar dua minggu dan dikerjakan bersama almarhum Iwan Sumadi.
Setelah komposisi selesai, latihan dilakukan bersama kelompok musik Islami Tajidor atau Terbang Jidor Kyai Zakaria. Instrumen gamelan, drum, viola, keyboard, dan perkusi turut mengisi aransemen lagu yang dimainkan oleh Matoha bersama putranya, Hanafi Madu W. Keterlibatan keluarga juga terlihat dalam proses produksi, mulai dari pengoordinasian paduan suara anak-anak lingkungan sekitar hingga pengarahan vokal dan konsep visual.
Matoha memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam lirik lagu Gunung Kawi agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima lebih luas.
“Saya memang sengaja menulis lagu ini dengan bahasa Indonesia agar dimengerti lebih banyak orang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pilihan bahasa tersebut bertujuan menghindari salah tafsir serta memungkinkan lagu dinyanyikan bersama dengan lebih mudah.
Lagu Gunung Kawi resmi dirilis secara digital pada 31 Desember 2025 dan telah tersedia di berbagai platform layanan streaming.
Lirik Lagu Gunung Kawi
GUNUNG KAWI
Kabupaten Malang ada satu tempat
Wisata Ritual Gunung Kawi itu namanya
Banyak orang datang berkunjung kesana
Bersama sahabat juga teman serta keluarga
Reff-1 :
Disanalah ada dua makam
Eyang Djoego dan Eyang Soejono
Keduanya dulu seorang pejuang
Jadi laskar Pangeran Diponegoro
Apakah salah kita mendo’akan
Agar diterima amal baiknya
Apakah salah kita mendo’akan
Agar dimaafkan semua salahnya
Reff-2 :
Gunung Kawi bukan tempat cari pesugihan
Gunung Kawei bukan tempat cari kekayaan
Bermohonlah dirimu pada Tuhan
Hanya kepada-Nya kita meminta
Apakah mungkin kita berdo’a
Tanpa kerja menjadi kaya
Mari berdo’a sambil berusaha
Agar tercapai cita-cita