Connect With Us

Tim Jokowi-Kalla Endus Dugaan Kecurangan Sistematis di Tangerang

Denny Bagus Irawan | Minggu, 13 Juli 2014 | 11:15

Warga Kota Tangerang usai memilih dalam Pilkada Kota Tangerang (Dens Bagoes Irawan / TangerangNews)

 
TANGERANG- Rekapitulasi suara yang tengah berjalan ditengarai sudah dinodai dengan kecurangan. Bahkan kecurangan yang ditemukan oleh tim kampanye Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) di Tangerang cenderung berpola sistematis.

"Ada kecurangan yang kita anggap sangat sistematis, disengaja dilakukan di 1 TPS, 1 Kecamatan, kasusnya adalah di TPS 47 Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang," kata Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang juga Ketua Tim Penggerak Saksi Seluruh Indonesia di Tim Nasional Djarot, di Kantor Partai NasDem, Sabtu (12/7/2014).

Hasil formulir C1 suara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa 014, suara Joko Widodo-Jusuf Kalla 336, tetapi ketika di scan oleh KPU suara berubah, dimana angka suara Prabowo-Hatta berubah 814. "Dan suara kita tetap 336. Manipulasi di satu TPS 800" imbuhnya.

Adapun, kata dia, setelah ditemui kesalahan itu, tim langsung menginvestigasi dan menemukan bahwa yang melakukan adalah KPU. Tak tinggal diam, tim melaporkan ke kepolisian. "KPU minta maaf karena kesalahan penulisan. Kami sampaikan permintaan maaf diterima tetapi proses hukum berjalan terus." Tandasnya.

Lebih jauh, dia mengatakan kelalaian penulisan ini bisa dianggap sebagai tindakan disengaja, sebab lewat hasil investigasi lebih jauh, rupanya di Kecamatan Kelapa Dua telah terhembus isu bahwa Prabowo-Hatta akan menang 60 persen sementara Jokowi-JK 40 persen.

"Sehingga patut menduga ini disengaja untuk menyesuaikan suara, sesuai isu yang sudah berhembus sebelumnya. Yang ingin kita ketahui kemudian siapa yang mem- back up penyelenggara" tandasnya.

Adapun, sambung dia, hal ini tak hanya terjadi di Tangerang tapi beberapa daerah seperti Wonosobo, Lapas Cipinang, Cempaka Putih, dan masih banyak lagi. Untuk kasus Tangerang sendiri sudah dibetulkan oleh KPU, namun untuk mencegah hal itu terulang kembali pihaknya tetap waspada dan melaporkan tiap kecurangan yang terjadi agar langsung di proses.

"Karena bagi Jokowi-JK penghitungan sangat menentukan dan apabila ini terus dilakukan maka kejahatan demokrasi yang sangat serius. Kita ingin pilpres jujur dan adil." tutupnya
 
KAB. TANGERANG
Sepakat Damai, Polisi Terlibat Ricuh saat Turnamen Sepakbola di Solear Tidak Dikenai Sanksi

Sepakat Damai, Polisi Terlibat Ricuh saat Turnamen Sepakbola di Solear Tidak Dikenai Sanksi

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:08

Polisi yang terlibat kericuhan pada saat turnamen Pekan Olahraga antar Pegawai (POP) yang mempertemukan tim dari Polresta Tangerang dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) tak dikenai sanksi.

OPINI
Fenomena Sarjana Pengangguran

Fenomena Sarjana Pengangguran

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:50

Lagu lama berulang kembali, pengangguran dari gelar sarjana semakin banyak. Realitasnya gelar sarjana ternyata bukan jaminan seseorang akan terhindar dari ancaman pengangguran.

BISNIS
JETOUR Kantongi 1.038 SPK di GIIAS 2026, Model SUV T2 dan T1 i-DM Paling Laku

JETOUR Kantongi 1.038 SPK di GIIAS 2026, Model SUV T2 dan T1 i-DM Paling Laku

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:23

Selama pameran berlangsung, JETOUR berhasil membukukan total 1.038 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) dari seluruh lini SUV yang ditawarkan kepada konsumen Indonesia.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill