Connect With Us

Jessica Ditangkap, Psikolog Yakin Bukan Dia Pelakunya

EYD | Sabtu, 30 Januari 2016 | 06:54

Jessica Kumala Wongso (istimewa / tangerangnews)

TANGERANG - Polisi menangkap Jessica Kumala Wongso setelah ditetapkan sebagai tersangka kematian Wayan Mirna (27). Berbagai spekulasi muncul setelah kasus ini menjadi sorotan.

Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel menilai, pelaku pembunuhan Mirna bukanlah Jessica. Pasalnya, ada berbagai kejanggalan jika dilihat dari ilmu yang dipelajarinya.

"Saya sampai hari ini tidak yakin pelaku adalah J, kedua saya tidak yakin ini pembunuhan yang mengincar korban sesungguhnya, saya kuat menduga ini salah sasaran," ungkap Reza dalam diskusi Polemik di Waroeng Daun, Jl Cikini Raya, Jakpus, Sabtu (30/1/2016).

Dari pandangan Reza, ada seorang intellectual leader dalam kasus Mirna ini. Terlebih senjata pembunuhan adalah racun, yang berarti, menurut Reza, pelaku ingin mengambil jarak dari TKP pembunuhan.

"Teori itu mengatakan bahwa kejahatan hanya bisa terjadi kalau ada 3 unsur. Ada pelaku, lokasi, dan korban di situ. Kita lupa alat kejahatan racun. Kalau badik atau tangan kosong, harus berhadap-hadapan secara frontal," jelas Reza.

"Tapi ini racun, logikanya karena pelaku ingin mengambil jarak. Itu sebabnya dia menggunakan racun. Hanya racun yang memungkinkan mengambil jarak sejauh-jauhnya. Ada eksekutor di situ, tapi saya yakin ada yang membuat master plan-nya. Matang dalam perencanaan, tapi kacau balau saat pelaksanaan," sambungnya.

Untuk itu Reza menduga bahwa pelaku sebenarnya dalam kasus ini justru berada di luar lokasi pembunuhan. Mirna tewas saat meminum kopi di sebuah kafe yang berada di Mall Grand Indonesia.

"Walaupun korban dan lokasi ada, pelaku belum tentu ada di situ. Ketika mengatakan pelaku, kita membayangkan orang yang melakukan hanya satu. Kita harus kembali bahwa senjatanya adalah sianida. Jadi menurut saya pelaku tidak ada di meja korban," tutur Reza.

Sianida bukan racun yang gampang dibeli di pasaran. Untuk bisa membunuh seseorang yang bukan tokoh penting, risikonya disebut Reza sangat berat.

"Saking berbahayanya, di beberapa negara hanya bisa beli khusus, via online karena pembeli harus memasukkan data, lisensinya, ingin digunakan untuk apa dan sebera banyak. Kalau data yang dibeli simpang siur, maka pembelian akan dicegah," ucap Reza.

"Kita bandingkan sianida yang ekslusif, sangat tidak sebanding antara instrumen dengan korban. Saya tidak yakin kasus ini akan terungkap," tambah dia.

Reza justru menggarisbawahi mengenai dampak terhadap Jessica sendiri jika memang ia bukanlah pelaku sebenarnya. Dengan segala publisitas yang akhirnya memunculkan opini publik, akan sangat tidak tepat jika ternyata pengungkapan kasus ini salah.

"Yang dialami Jessica itu mimpi buruk. Bahwa ketika proses pidana ketika teman-teman di Polda Metro Jaya mengalami kekikukan, itu terasa. Bukan itu muncul sedemikian rupa, yang parah adalah sanksi sosialnya itu menciptakan ketersiksaan tersendiri bagi seseorang," tukas Reza.

Hal senada juga diungkapkan oleh Peneliti Hukum dan Pakar Viktimologi UI Heru Soesetyo. Menurutnya, ada banyak bumbu yang tidak perlu dalam kasus kematian Mirna.

"Saya khawatir walau Jessica ditangkap, kasus tidak akan terungkap. Ini sudah kasus publik. Saya khawatir polisi hanya melindungi selera masyarakat bukan untuk peradilan sendiri. Maka yang harus dilakukan adalah due of law," ujar Heru.

Heru juga menekankan kepada petugas kepolisian untuk benar-benar mengedepankan aturan hukum dalam mencari siapa pembunuh Mirna sebenarnya.

"Jangan takut dibilang tidak populer. jangan hanya mengikuti keinginan selera masyarakat timbul viktimisasi. Sehingga muncul korban lain selain Mirna. Keterlibatan segala ahli sangat diperlukan, untuk memberikan kontribusi dalam penyidikan," bebernya.

Masyarakat juga diminta untuk tidak langsung menjudjing seseorang jika belum ada peradilan di pengadilan. Jessica sendiri berpotensi menjadi seorang korban terkait kasus ini.

"Potensinya memang ada seperti itu. Penyidik tidak cepat menetapkan tersangka, tapi polisi terdesak, terpacu oleh masyarakat dan media. Polisi perlu membuktikan capable, sehingga saya khawatir mereka menentukan tersangka karena desakan masyarakat. Bukan karena benar-benar dia (Jessica) tersangkanya," tutup Heru.

TOKOH
Richard Lee Siap Buka Seluruh Fakta, Tantang Doktif Hadir ke Persidangan

Richard Lee Siap Buka Seluruh Fakta, Tantang Doktif Hadir ke Persidangan

Kamis, 30 Juli 2026 | 14:28

Richard Lee menantang Samira Farahnaz alias Doktif untuk hadir dalam sidang kasus dugaan pelanggaran perlindungan konsumen yang menjerat dirinya sebagai terdakwa.

BISNIS
GIIAS 2026 Dibuka Besok di ICE BSD, Cek Harga Tiket, Akses Jalan dan Titik Parkir

GIIAS 2026 Dibuka Besok di ICE BSD, Cek Harga Tiket, Akses Jalan dan Titik Parkir

Rabu, 29 Juli 2026 | 18:02

Pameran otomotif terbesar di Indonesia, GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, kembali hadir di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Kabupaten Tangerang, pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026.

OPINI
Cara Islam Memberantas Korupsi

Cara Islam Memberantas Korupsi

Senin, 27 Juli 2026 | 20:32

Kasus megakorupsi yang merugikan negara terus terjadi, seolah tidak memiliki solusi yang pas, walaupun telah dibentuk lembaga untuk memberantas kasus korupsi ini, yaitu KPK. Namun kasus korupsi terus berulang dengan nilai yang sangat fantastis.

PROPERTI
Peritel Makin Selektif Pilih Lokasi Usaha, Summarecon Serpong Perkuat Ekosistem Kawasan

Peritel Makin Selektif Pilih Lokasi Usaha, Summarecon Serpong Perkuat Ekosistem Kawasan

Kamis, 30 Juli 2026 | 19:54

Besarnya arus kendaraan di suatu kawasan dinilai tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur utama bagi pelaku usaha ritel dalam menentukan lokasi ekspansi bisnis.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill