Connect With Us

Kemenangan Akademik Airin-Benyamin

| Rabu, 2 Maret 2011 | 21:11


Oleh : Indra J Piliang

Pilkada ulang yang digelar di Kota Tangerang Selatan pada 27 Februari 2011 lalu sudah selesai. Diluar dugaan banyak pengamat, pasangan Airin-Benyamin menang, mengalahkan pasangan Arsid-Andreas. Bukan soal kemenangannya, melainkan marginnya yang mencapai angka 10% lebih. Margin itu jauh dibanding pilkada 13 November 2010.

Menurut hasil quick count yang dilakukan tiga lembaga (Lembaga Survei Indonesia, Puskaptis dan LSI-KCI), pasangan Airin-Benyamin menang antara 53%-54%. Di urutan kedua adalah pasangan Arsid-Andre dengan perolehan suara sebesar 43%. Meskipun belum final, quick count ini menunjukkan jarak suara antara 10% sampai 11%. Bandingkan dengan pilkada pertama yang hanya berjarak sekitar seribu suara.

Sekalipun hasil resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tangerang belum diumumkan, sudah jelas betapa quick count menunjukkan kemenangan pasangan Airin-Benyamin. Dalam ranah ilmu-ilmu sosial, quick count adalah murni sebagai alat hitung akademik. Jarang sekali lembaga survei yang salah dalam melakukan quick count.

Karena itu, pasangan Airin-Benyamin bisa disebut sebagai pasangan yang sudah menang secara akademik. Kemenangan akademik itu masih memerlukan legalitas, baik di tingkat KPU maupun di Mahkamah Konstitusi (MK). Bagaimanapun, perintah pelaksanaan pilkada ulang diberikan oleh MK. Sekalipun merugikan secara psikologis, finansial, politik dan tenaga, semua pasangan tetap maju dalam pilkada ulang tanpa kampanye. 
 
***
Masalahnya, terdapat penggiringan opini publik agar tidak mempercayai hasil quick count. Publik terus-menerus dikondisikan pada posisi anonim, seolah tanpa mata dan telinga dalam menghadapi kondisi pilkada Tangsel. Sikap yang tak akademik dengan mengatakan agar tak percaya quick count itu justru dilakukan oleh kalangan yang terlibat sebagai dosen perguruan tinggi.

Yang lebih parah adalah mengatakan bahwa hujan adalah “penyebab” dari kekalahan Arsid-Andre. Dan yang mengatakan itu adalah “peneliti” dari lembaga survei terkenal. Sang peneliti rupanya tidak sedang membaca hasil-hasil quick count yang dilakukan lembaganya, melainkan hanya melihat situasi becek di lapangan. Padahal, kalau peneliti itu membaca hasil quick count, terbukti jumlah pemilih justru meningkat dibandingkan pilkada tanggal 13 November 2010.

Yang lebih “celaka” adalah adanya kalimat "Kalau saya warga Tangsel saya akan pilih Arsid-Andre, karena dia punya kemampuan, integritas, apalagi terkait dengan dinasti tertentu," yang dimuat di Kantor Berita Antara. Saya malah tahu soal kalimat itu ketika sedang menikmati perjalanan di Kalimantan Timur. Darimana saya tahu? Dari sms yang dikirim ke ponsel. Entah siapa yang iseng mengirimkan berita panjang itu ke ponsel saya, dua kali kirim.

Siapa pembuat kalimat : jangan percaya quick count itu? Siapa juga yang membuat kalimat: kalau saya warga Tangsel? Keduanya sosok yang saya hormati. Bagi saya, siapapun yang bicara tidaklah penting. Namun menjadi janggal kalau menyangkut prinsip-prinsip dalam ilmu pengetahuan dan aturan main pilkada.

Quick count
 sudah “disepakati” sebagai bagian dari metode ilmiah untuk mengetahui hasil pemilu atau pilkada secara cepat. Dulu, ada ketentuan di UU yang melarang pengumuman hasil quick count. Namun MK memutuskan bahwa quick count sah sebagai sarana ilmu pengetahuan. Kalau quick count adalah bagian dari manuver politik, saya yakin MK akan melarang penggunaan metode ini dalam pemilu dan pilkada.

Begitupula kejanggalan kalimat “Saya akan pilih Arsid-Andre”. Itu jelas kalimat ajakan. Padahal, tidak boleh ada lagi kalimat-kalimat bernada kampanye seperti itu. Saya kira, setiap warga negara, apalagi pelaku-pelaku politik, sebaiknya makin memperhatikan detil persoalan ini. Kenapa? Bukankah kita menginginkan kualitas demokrasi yang lebih baik?
 
***
 
Sejak awal serial “Menulis Airin” sudah saya katakan alasan melibatkan diri dalam masalah ini. Lebih karena keganjilan-keganjilan dalam pengambilan posisi kelompok-kelompok sosial masyarakat dalam pilkada Tangsel. Argumen-argumen yang diajukan oleh masing-masing pihak saya cek satu demi satu. Lalu, di forum yang terbatas ini saya uraikan dalam bentuk tulisan.

Bagi saya, serial “Menulis Airin” ini adalah bagian dari proses pendewasaan berpolitik dan berdemokrasi. Memang, saya terkadang tidak menulis dalam waktu lama, mengingat kehidupan sebagai politisi adalah kehidupan yang bergerak dan bergolak. Sebagian besar waktu habis di jalanan, menghadiri acara ini dan acara itu. Berbeda dengan dulu waktu menjadi peneliti penuh: masih banyak waktu dihabiskan di belakang meja kerja di kantor.

Bagi pasangan Airin-Benyamin, saya kira sekarang memiliki kewajiban moral dan politik untuk kembali merajut tali kasih yang sempat retak di masyarakat. Walau menang dengan margin yang meyakinkan, masyarakat telanjur terbelah dua. Selain itu, pasangan Airin-Benyamin layak melihat prosentase sekitar 39% pemilih yang tidak datang ke TPS-TPS. Untuk ukuran masyarakat yang masuk wilayah kota, jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih sebesar 61% itu termasuk besar. Bandingkan dengan kota Medan, misalnya.

Walaupun begitu, Airin-Benyamin layak menyadari bahwa jauh lebih banyak pemilih yang tidak memilih keduanya. Ya, katakanlah karena alasan tidak memiliki payung atau jas hujan untuk pergi ke TPS. Artinya, kemenangan secara akademis belum tentu kemenangan secara sosial. Pasangan Airin-Benyamin layak membangun komunikasi multi-arah, termasuk kepada kelompok-kelompok yang memilih Arsid-Andre. Bahkan saya membayangkan betapa seorang Andre layak mengambil peran di pemerintahan Airin-Benyamin, kelak.

Sementara bagi Arsid-Andre, ucapan selamat layak diberikan. Kedua pasangan ini sudah memberikan perlawanan hebat, baik di ranah politik praktis, hukum maupun sosial-budaya. Kelengahan Airin-Benyamin pada pilkada pertama hampir saja membawa petaka politik.

Ke depan, sudah selayaknya semua pasangan calon saling mensinergikan diri, program ataupun tenaga dan pikiran. Membangun Tangsel sebagai daerah pemekaran baru sangat membutuhkan partisipasi warga negara. Tumpukan sampah di sana sini, area perumahan yang berdempetan dengan area usaha, jalanan-jalanan besar dan kecil yang macet, tentu membutuhkan manusia-manusia dengan lapang hati dan pikiran.

Siapapun pemenang pilkada Tangsel ini adalah keputusan bersama pemilih Tangsel. Dan itulah demokrasi. Tidak ada yang benar-benar puas. Tentu, akan banyak masalah di kemudian hari, termasuk dampak koalisi besar partai politik pengusung Airin-Benyamin. Mudah-mudahan saya masih sempat mengkritisinya, suatu hari, nanti...

HIBURAN
Nagita Ungkap Alasan Pendapatan RANS Turun, Kurangi Ketergantungan Raffi Ahmad

Nagita Ungkap Alasan Pendapatan RANS Turun, Kurangi Ketergantungan Raffi Ahmad

Jumat, 10 Juli 2026 | 16:23

Direktur Utama PT RANS Entertainment Indonesia Tbk Nagita Slavina mengungkap, alasan di balik penurunan pendapatan perusahaan dalam dua tahun terakhir.

PROPERTI
Hunian Bergaya American Classic Klaster Mimosa Diluncurkan, Harganya Mulai Rp1,6 M

Hunian Bergaya American Classic Klaster Mimosa Diluncurkan, Harganya Mulai Rp1,6 M

Jumat, 10 Juli 2026 | 18:24

Paramount Petals meluncurkan Mimosa, klaster hunian terbaru bergaya American Classic yang menjadi proyek residensial kelima di kawasan kota mandiri tersebut.

BANTEN
Perbaikan Ruas Jalan Teluknaga–Dadap Tangerang Telan Rp17 Miliar APBD Banten

Perbaikan Ruas Jalan Teluknaga–Dadap Tangerang Telan Rp17 Miliar APBD Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 19:28

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten tengah melakukan rekonstruksi pada ruas Jalan Teluknaga–Dadap, Kabupaten Tangerang yang kondisiya rusak parah hingga kerap dikeluhkan masyarakat.

SPORT
Peluang Argentina Back to Back Juarai Piala Dunia 2026

Peluang Argentina Back to Back Juarai Piala Dunia 2026

Rabu, 15 Juli 2026 | 12:55

Persaingan menuju gelar Piala Dunia 2026 hanya menyisakan empat negara, yakni Timnas Argentina, Timnas Inggris, Timnas Prancis, dan Timnas Spanyol.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill