Connect With Us

Ketika Perbaikan Jalan Tak Pernah Benar-Benar Selesai

Rangga Agung Zuliansyah | Rabu, 11 Maret 2026 | 23:50

Rama Bagas Fikriyana, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Yuppentek Indonesia. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh: Rama Bagas Fikriyana, Mahasiswa Universitas Yuppentek Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 

TANGERANGNEWS.com-Jalanan yang rusak di wilayah Kota dan Kabupaten Tangerang sering terasa seperti masalah yang tidak pernah benar benar selesai. Bahkan anehnya, kerusakan itu biasanya muncul hanya di titik tertentu di ruas jalan yang berlubang. Belum lama diperbaiki, tiba-tiba muncul lagi lubang baru di lokasi berbeda seperti kerusakannya hanya pindah tempat, bukan benar-benar hilang.

Bagi pengguna jalan, kondisi ini bukan cuma membingungkan, tapi juga melelahkan. Hari ini satu titik sudah ditambal, besok muncul lubang lain beberapa meter dari sana. Dan akhirnya pengendara mengurangi kecepatan bukan semata karena aturan lalu lintas, melainkan karena harus menghafal titik-titik berbahaya di jalan yang sama setiap hari. Jalan yang seharusnya mempermudah mobilitas malah berubah jadi ruang penuh antisipasi.

Kerusakan yang muncul di titik titik tertentu ini sebenarnya memberi sinyal bahwa masalahnya lebih dalam dari sekedar aspal berlubang. Muncul pertanyaan soal kualitas perbaikan dan pola perawatan jalan, apakah perbaikannya hanya sementara? apakah drainase kurang berfungsi? atau memang pemeliharaan lebih fokus pada tambal cepat daripada solusi jangka panjang?

Sering kali perbaikan terlihat reaktif seperti lubang muncul, lalu ditambal, dan dianggap selesai. Padahal kalo penyebab utamanya seperti genangan air, beban kendaraan berat, atau kualitas material tidak ikut ditangani pasti kerusakan baru sering muncul kembali. Akibatnya, masyarakat melihat pola yang berulang seperti rusak, diperbaiki, lalu rusak kembali.

Menariknya, kerusakan ini jarang terjadi merata. Hanya beberapa titik yang rusak parah sementara bagian lain tetap mulus. Justru kondisi seperti ini membuat pengendara sering lengah. Saat jalan terlihat baik baik saja, tiba tiba ada lubang tanpa peringatan dan risiko kecelakaan pun meningkat karena kondisi jalan yang tidak konsisten.

Dari sudut pandang masyarakat, muncul kesan bahwa perhatian terhadap infrastruktur masih bersifat insidental, bukan pencegahan sejak awal. Perbaikan biasanya dilakukan setelah kerusakan terlihat parah atau keluhan warga mulai ramai. Padahal idealnya, pemeliharaan dilakukan sebelum jalan berubah menjadi sumber bahaya.

Kemunculan lubang baru setelah perbaikan lama juga perlahan memengaruhi kepercayaan publik. Warga mulai bertanya apakah anggaran perbaikan benar benar menghasilkan kualitas yang tahan lama. Ketika kerusakan terus muncul di titik baru, kesannya masalah hanya dipindahkan, bukan diselesaikan.

Di sisi lain, memang harus diakui bahwa wilayah Tangerang baik kota maupun kabupaten memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Pertumbuhan kendaraan, aktivitas logistik, dan pembangunan yang cepat memberi tekanan besar pada kondisi jalan. Tanpa sistem pemeliharaan yang konsisten dan berkelanjutan, kerusakan memang mudah terjadi. Jadi persoalannya bukan sekedar ada atau tidaknya perbaikan, tetapi bagaimana perbaikan itu dirancang supaya tidak terus berulang.

Pada akhirnya, jalan rusak di satu titik mungkin terlihat sebagai masalah kecil. Tapi ketika titik titik itu terus muncul dan berganti itu menjadi gambaran yang lebih besar tentang bagaimana infrastruktur dikelola. Jalan bukan hanya soal aspal, melainkan soal rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik.

Selama jalan rusak terus muncul di titik titik baru, masyarakat akan tetap berkendara dengan kewaspadaan berlebih. Dan selama perbaikan masih terasa sementara, jalanan di Tangerang akan terus menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun atau menambal, tetapi memastikan sesuatu benar benar selesai bukan sekedar diperbaiki untuk sementara.

WISATA
Pusat Kuliner G Town Square Gading Serpong Tutup, Pindah Lokasi ke Tigaraksa

Pusat Kuliner G Town Square Gading Serpong Tutup, Pindah Lokasi ke Tigaraksa

Senin, 18 Mei 2026 | 11:09

Pusat kuliner G Town Square di kawasan Gading Serpong dipastikan menghentikan operasionalnya mulai 15 Mei 2026.

BANTEN
Pemprov Banten-Pusat Rakor Bahas Kebutuhan dan Tagihan Listrik PJU Jalan Nasional

Pemprov Banten-Pusat Rakor Bahas Kebutuhan dan Tagihan Listrik PJU Jalan Nasional

Selasa, 19 Mei 2026 | 23:06

Masalah minimnya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada ruas jalan nasional di wilayah Provinsi Banten mendapat atensi serius.

OPINI
Indonesia Surga Mafia Judol Internasional?

Indonesia Surga Mafia Judol Internasional?

Minggu, 17 Mei 2026 | 15:42

Pada 9 Mei 2026 Bareskrim Polri menahan 320 WNA pelaku sindikat judi online di gedung perkantoran Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Setiap tahun selalu ada penangkapan sindikat Judol.

KAB. TANGERANG
38 Hektare Lahan Milik Pemprov DKI di Legok Tangerang Bakal Dibuat Tandon dan Pertanian

38 Hektare Lahan Milik Pemprov DKI di Legok Tangerang Bakal Dibuat Tandon dan Pertanian

Rabu, 20 Mei 2026 | 20:09

Puluhan hektare lahan tidur milik Pemerintah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang berada di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang rencananya akan disulap menjadi kawasan produktif, mulai dari infrastruktur pengendali banjir

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill