TANGERANGNEWS.com- Kabupaten Tangerang yang dikenal sebagai daerah kawasan pusat industri justru berbanding terbalik dengan daya saingnya yang terpaut cukup jauh dari wilayah lain di Provinsi Banten.
Hal itu diketahui melalui data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang dirilis oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Berdasarkan data, Kabupaten Tangerang mencatat skor 3,99 dan berada di peringkat keempat di Banten. Posisi tersebut berada di bawah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang meraih skor 4,29 dan Kota Tangerang sebesar 4,13.
Bahkan, Kabupaten Tangerang juga masih tertinggal dari Kota Serang yang mencatat 4,06.
Kondisi ini menunjukkan besarnya aktivitas industri pun belum otomatis diikuti kualitas daya saing yang merata.
Kabupaten Tangerang selama ini dikenal sebagai kawasan industri dan manufaktur terbesar, namun indikator penilaian menunjukkan masih adanya beberapa kelemahan mendasar.
Pada pilar pasar produk, Kabupaten Tangerang hanya mencatat skor 2,93. Sementara pada dinamika bisnis, nilainya berada di angka 2,90. Kedua indikator ini menggambarkan iklim persaingan usaha dan kemudahan berbisnis di Kabupaten Tangerang belum berjalan optimal.
Di sisi lain, Kota Tangsel yang berada di posisi teratas memiliki skor tinggi di berbagai indikator. Meski demikian, wilayah ini juga mencatat dinamika bisnis sebesar 2,96, yang menunjukkan masih adanya hambatan dalam aktivitas usaha.
Hal serupa terlihat di Kota Tangerang. Dengan skor total 4,13, kota ini unggul dalam adopsi teknologi dan ukuran pasar, namun dinamika bisnisnya tercatat 2,88, yang menjadi salah satu titik lemahnya.
Sementara itu, Kota Serang justru menunjukkan performa yang lebih stabil pada beberapa indikator.
Pasar produk di Kota Serang mencapai 4,93 dan dinamika bisnis 3,43, lebih tinggi dibanding Kabupaten Tangerang.
Secara keseluruhan, rata-rata skor kabupaten/kota di Provinsi Banten berada di angka 3,81, sedangkan skor provinsi 3,95.
Jika ditelisik, Kabupaten Tangerang memang masih berada di atas rata-rata, namun jarak keunggulannya tidak terlalu jauh dan mulai terkejar daerah lain.
Di bagian bawah, Lebak dan Pandeglang masih mencatat skor masing-masing 3,41 dan 3,24. Kedua wilayah ini masih terkendala pada infrastruktur dan akses ekonomi.