TANGERANGNEWS.com-Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Tangerang untuk semakin meningkatkan kewaspadaan.
Apalagi, kondisi cuaca panas ekstrem saat ini, semakin meningkatkan potensi kebakaran di TPA Rawa Kucing, Kota Tangerang.
Guna mengantisipasi tragedi serupa, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang kini bergerak cepat mengintensifkan kesiapsiagaan di TPA yang menampung 1.600 ton sampah per hari itu.
Kepala DLH Kota Tangerang Wawan Fauzi menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin kecolongan.
Mengingat pengalaman pahit kebakaran besar yang pernah melanda TPA Rawa Kucing pada tahun 2023 silam, prosedur pengamanan kini diperketat lewat pengawasan berlapis yang melibatkan berbagai unsur terkait.
"Kami sudah memiliki prosedur untuk melakukan mitigasi terhadap kebencanaan di TPA Rawa Kucing. Ini sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari, belajar dari pengalaman tahun 2023," ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin 6 Juli 2026.
Siapkan 50 Ribu Liter Pasokan Air
Menurutnya, langkah antisipasi teknis diperkuat dengan penempatan 5 unit toren air dengan kapasitas masing-masing 10 ribu liter di lima titik strategis kawasan TPA.
Penyediaan total 50 ribu liter air ini bertujuan agar pasokan air selalu dalam posisi standby.
"Jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk pemadaman darurat, petugas piket yang berjaga bisa langsung melakukan tindakan penyemprotan tanpa penundaan," tambah Wawan Fauzi.
Tak hanya pasokan air, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga menyiagakan satu unit mobil pemadam kebakaran beserta lima personel di lokasi TPA.
Selain itu, DLH melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPA Rawa Kucing juga menerapkan sistem piket pantau dan patroli selama 24 jam penuh untuk menyisir setiap sudut TPA.
Kemudian, petugas secara berkala melakukan penyiraman pada area gunungan sampah (landfill) guna menjaga kelembaban material sampah yang mudah terbakar.
"Kami juga lakukan pembersihan (clearance) terhadap rumput dan pohon-pohon kering di sekitar lokasi yang berpotensi memicu rambatan api," terang Wawan.
Edukasi Pemulung
Tak hanya kesiapan teknis, mitigasi juga menyasar pada aktivitas manusia di dalam TPA. Sadar bahwa TPA Rawa Kucing menjadi tumpuan hidup banyak orang, DLH memilih pendekatan edukatif ketimbang melarang total kehadiran pemulung dan pedagang.
Bersama aparat Polsek Neglasari dan Koramil 02 Batuceper, DLH rutin menggelar sosialisasi bulanan agar para pekerja lapangan tersebut tidak memicu titik api.
"Kami terus edukasi, seperti melarang membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan aktivitas memasak di atas area landfill. Pedagang yang berjualan diimbau hanya membawa makanan yang sudah matang dari luar," ujar Wawan Fauzi.
Melalui strategi komprehensif ini, Wawan Fauzi berharap TPA Rawa Kucing dapat terhindar dari bencana kebakaran dan tetap beroperasi secara normal demi melayani kebutuhan pembuangan sampah masyarakat.
"Kami berharap tentu doa selalu dari masyarakat Kota Tangerang agar TPA Rawa Kucing bisa tetap beroperasional di tengah situasi dan kondisi cuaca yang ekstrem ini," pungkasnya.