Connect With Us

Gayus Hanya Markus Kelas Teri

| Sabtu, 27 Maret 2010 | 22:10


TANGERANGNEWS-Modus yang dilakukan petugas pajak Gayus Tambunan merupakan hal yang lazim dilakukan petugas pajak lainnya. Pernyataan ini keluar dari mulut anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Mas Achmad Santosa. Pernyataan ini disampaikan pria yang kerap disapa Ota itu dalam diskusi bertajuk  "Gurita Makelar Kasus" yang diadakan di Restoran Waroeng Daoen, Cikini, Jakarta Pusat, siang ini.
 
"Modus yang saya lakukan itu biasa. Masih banyak orang-orang lain," Ota menirukan ucapan Gayus.
"Kalau golongannya semakin tinggi, tentunya kasus pajak yang dimakelarkan upahnya akan lebih tinggi," ujarnya lagi.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan Ota, Gayus hanya menjadi markus di perusahaan-perusahaan kecil saja. Sedangkan untuk perusahaan besar, harus ditangani pejabat dengan golongan lebih tinggi.

Ota pun mencurigai ada petugas-petugas pajak dengan golongan yang lebih tinggi tersangkut kasus serupa. Markus ini pun sudah merajalela di semua lini.
"Keterlibatan tidak hanya di tubuh Polri, tapi juga di kejaksaan, pengadilan, dan advokat."
Oleh karena itu, Ota melihat ada kebocoran dalam pajak seperti yang disinyalir dari pernyataan Gayus yang disampaikan ke Satgas.

"Ada kebocoran dalam pajak. Ini harus dijadikan hikmah bagi Polri dengan meningkatkan remunerasi. Ada yg keliru dan harus dibenarkan. Harus memanfaatkan momentum untuk memberantas dan mengikis," jelasnya.

Akan tetapi, Ota menolak mengusut adanya kemungkinan kasus-kasus yang lebih besar dibandingkan yang dilakukan Gayus. "Satu-satulah. Jangan terlalu bernafsu. Satu-satu," kilahnya.
Ota pun membantah Satgas Mafia Hukum bergerak lamban dalam pengusutan kasus ini karena Gayus sudah keburu lari sebelum dia sempat dicekal.
.
"Dia (Gayus) lebih cepat dan sigap saja. Kami juga sedamg dalam proses pematangan. Setelah itu baru berkoordinasi dengan petinggi lembaga hukum, baru bergerak," imbuhnya lagi.
Dia pun yakin Gayus akan kembali. Ada dua skenario yang disampaikannya terkait kembalinya Gayus untuk menjelaskan kasus markus ini.
"
Kita optimis polisi dalam waktu cepat bisa menghadirkan dia. Dan yang kedua, dia secara sukarela dan kooperatif muncul."

Menurut Ota, larinya Gayus ini kemungkinan besar karena belum adanya kepastian hukum yang bisa melindungi dia. Pasalnya, dalam kasus markus pajak ini, Gayus terlibat di dalamnya sekaligus sebagai pelapornya. Hal inilah yang disayangkan Ota, sehingga Gayus lari.
"Kalau misalnya ada orang yang ikut melakukan tindakan pidana korupsi, dan dia mau membongkar, ga ada perlindungannya. Ini harus diterapkan juga. Ini juga yang membuat Gayus bimbang, kemudian lari," tebaknya. (dira)

TOKOH
Selamat Jalan, Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia Usai Berjuang Lawan Kanker

Selamat Jalan, Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia Usai Berjuang Lawan Kanker

Sabtu, 7 Maret 2026 | 18:51

Kabar duka datang dari dunia musik Indonesia. Penyanyi Vidi Aldiano dikabarkan meninggal dunia pada usia 35 tahun. Informasi tersebut disampaikan sejumlah musisi Tanah Air melalui media sosial pada Sabtu, 7 Maret 2026, dikutip dari Kompas.

NASIONAL
Meski Sudah Dirumuskan, Pemerintah Masih Belum Buka Rekrutmen ASN 2026 

Meski Sudah Dirumuskan, Pemerintah Masih Belum Buka Rekrutmen ASN 2026 

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:31

Pemerintah memastikan rencana rekrutmen aparatur sipil negara (ASN) tahun 2026 sebenarnya sudah mulai dirumuskan. Namun, keputusan terkait pembukaan formasi CPNS maupun PPPK 2026 masih belum diumumkan karena pemerintah masih menahan penetapan final.

HIBURAN
Bukan Cuma Opor, Tradisi Makan Bakso saat Lebaran Ternyata Sudah Ada Sejak 1981

Bukan Cuma Opor, Tradisi Makan Bakso saat Lebaran Ternyata Sudah Ada Sejak 1981

Senin, 23 Maret 2026 | 22:37

Opor, ketupat, dan aneka kue kerap menjadi menu utama saat Hari Raya Idulfitri. Namun setelah terasa dengan sajian khas Lebaran, banyak warga justru beralih mencari semangkuk bakso hangat.

OPINI
Idul Fitri dan Matinya Hak Berijtihad di Bawah Stempel Negara

Idul Fitri dan Matinya Hak Berijtihad di Bawah Stempel Negara

Selasa, 24 Maret 2026 | 18:37

Ramadan 1447 Hijriah (2026) baru saja membasuh spiritualitas kita, namun ia menyisakan residu kegelisahan yang melampaui urusan ibadah. Di tengah gema takbir yang bersahutan, publik disuguhi tontonan otoritas keagamaan yang tak lagi sekadar memandu

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill