Connect With Us

Sampah, Cermin Rusaknya Sebuah Peradaban

Rangga Agung Zuliansyah | Jumat, 27 Juni 2025 | 20:00

Hana Annisa Afriliani, S.S., Aktivis Dakwah dan Penulis Buku. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S., Aktivis Dakwah dan Penulis Buku

 

TANGERAGNEWS.com-Persoalan sampah rasanya tidak pernah usai di bahas di negeri ini. Ya, karena menumpuknya sampah, khususnya sampah yang tidak mudah terurai (anorganik), seperti plastik, stereofoam, logam, kain, dan barang-barang elektronik, mampu mencemari lingkungan tempat tinggal manusia. Oleh karena itulah, pemerintah berupaya menanggulangi persoalan sampah tersebut, yakni dengan mendorong program-program UMKM yang mengelola sampah menjadi barang-barang kerajinan.

Selain itu, beberapa kalangan masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap kebersihan lingkungan pun turut ambil peran, sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di Kabupaten Tangerang yang menamakan dirinya sebagai Koalisi Muda 17 (KM 17).

Dalam rangka aksi “Tangerang Sadar Sampah”, para pemuda tersebut membersihkan sampah di TPS liar di pinggir jalan sepanjang 17 kilometer di 10 kecamatan Kabupaten Tangerang. Bahkan mereka mewacanakan akan membangun TPS3R secara mandiri. Adapun TPS3R adalah Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

Aksi yang dilakukan para pemuda tersebut ternyata mendapat apresiasi dari Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, yang menyebut bahwa aksi tersebut patut menjadi contoh bagi anak-anak muda. Namun sejatinya, rencana perluasan dan optimalisasi TPS3R tersebut merupakan langkah teknis yang bersifat jangka pendek. Upaya ini tidak menyentuh akar persoalan dan hanya menunda ledakan krisis lingkungan yang lebih besar.

Perlu ada perubahan yang lebih mengakar sehingga persoalan sampah tidak hanya di atasi secara permukaannya saja, melainnya dapat dituntaskan.

 

Sampah, Produk Sistem Hidup Kapitalistik

Menumpuknya sampah yang mencemari lingkungan tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sistem hidup kapitalistik sekuler. Sistem ini telah menghasilkan manusia-manusia yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Salah satu karakter yang menonjol adalah membuang sampah tidak pada tempatnya, misalnya di selokan, sungai, hingga pinggir jalan.

Di sisi lain, penggunaan produk-produk yang tidak ramah lingkungan juga marak terjadi di tengah masyarakat. Sebetulnya tidak seutuhnya salah konsumen, tetapi produsen pun turut bertanggung jawab atas pencemaran yang terjadi. Betapa tidak, para produsen tersebut membuat produk yang kebanyakan justru menggunakan kemasan berbahan plastik.

Di sisi lain, sistem Kapitalisme yang menjadikan lingkungan sebagai komoditas. Orientasi keuntungan membuat pengelolaan sampah dan sumber daya alam dilakukan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Pemerintah tidak tegas dalam mengatur para pengusaha membuat produk yang ramah terhadap lingkungan. Beginilah fakta yang terjadi ketika pemerintah lebih mengedepankan kepentingan para pengusaha.

 

Sistem Islam Menyolusi Persoalan Sampah

Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui sistem Khilafah yang menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai bagian dari amanah syar’i. Negara bertindak sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab penuh atas kebersihan dan kelestarian alam. Negara yang menerapkan syariat Islam akan memahami hakikat keberadaan alam ini adalah untuk dijaga dan dilestarikan. Oleh karena itu, negara akan berupaya melakukan pelestarian lingkungan hidup dengan payung undang-undang yang bersumber dari wahyu ilahi.

Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, dermawan dan menyukai kedermawanan, maka bersihkanlah tempat-tempatmu." (HR. Tirmidzi)

Dalam Khilafah, pengelolaan sampah tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga pendidikan. Lewat sistem pendidikan Islam, individu rakyat diberikan pemahaman mendasar soal kewajiban menjaga kesehatan dan kebersihan sebagai bagian dari iman. Dengan begitu lahir sebuah pemahaman mendasar tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Hal ini, menjadi salah satu langkah preventif yang dilakukan oleh negara. Selain itu, Khilafah akan mendorong partisipasi masyarakat untuk bersinergi mengelola sampah. Kemudian negara juga akan membuat kebijakan tegas terhadap pelaku pencemaran lingkungan. Ini semua berdasarkan tuntunan syariat Islam yang menyeluruh dan berkeadilan.

Dengan demikian, hanya dengan penerapan sistem Islam yang komprehensif dalam bingkai Khilafah yang akan mampu menyelesaikan persoalan sampah secara kaffah.

TANGSEL
BPOM dan DPR RI Sidak Pasar di Tangsel, Temukan Kerupuk dan Zat Cina Mengandung Pewarna Tekstil

BPOM dan DPR RI Sidak Pasar di Tangsel, Temukan Kerupuk dan Zat Cina Mengandung Pewarna Tekstil

Rabu, 11 Maret 2026 | 22:00

Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan di Pasar Modern BSD, Serpong, pada Rabu 11 Maret 2026, tim gabungan dari Komisi IX DPR RI, BPOM, dan Pemkot Tangsel menemukan sejumlah bahan pangan berbahaya yang masih beredar bebas.

TEKNO
Trafik Data Jakarta-Banten Bakal Tembus 6,38 Petabyte saat Lebaran, Telkomsel Perkuat Jaringan di Jalur Mudik

Trafik Data Jakarta-Banten Bakal Tembus 6,38 Petabyte saat Lebaran, Telkomsel Perkuat Jaringan di Jalur Mudik

Jumat, 6 Maret 2026 | 22:52

Telkomsel Regional Jakarta dan Banten bersiap menghadapi lonjakan trafik komunikasi yang masif pada momen Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 2026. Diproyeksikan puncak payload akan menembus angka fantastis 6,38 Petabyte (PB), meningkat sekitar 3,30%

PROPERTI
Banyak Peminat, Summarecon Tangerang Rilis Rona Homes Tahap 2 Mulai Rp830 Jutaan

Banyak Peminat, Summarecon Tangerang Rilis Rona Homes Tahap 2 Mulai Rp830 Jutaan

Selasa, 3 Maret 2026 | 16:06

Tren hunian compact dan konsep rumah tumbuh semakin digandrungi di wilayah Tangerang. Merespons antusiasme pasar yang luar biasa, PT Summarecon Agung Tbk melalui unit bisnis terbarunya, Summarecon Tangerang, resmi meluncurkan Rona Homes Tahap 2.

BISNIS
Jelang Lebaran, Penggunaan Kemasan Bahan PP Melonjak untuk Mudik dan Logistik

Jelang Lebaran, Penggunaan Kemasan Bahan PP Melonjak untuk Mudik dan Logistik

Senin, 9 Maret 2026 | 21:57

Momentum Ramadan menjadi salah satu pendorong utama aktivitas ekonomi nasional. Berdasarkan tren data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga cenderung meningkat selama periode Ramadan

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill