Oleh: Khikmawanto, Dosen di Universitas Yuppentek Indonesia, Pegiat Literasi Politik dan Penulis Buku The Governance Game.
TANGERANGNEWS.com-Peringatan kemerdekaan republik ini sejatinya memanggil kembali janji emansipasi yang paling mendasar, yakni pembebasan nalar manusia dari segala bentuk perhambaan feodal. Namun di tengah gencarnya modernisasi digital dalam birokrasi Indonesia, muncul kegelisahan yang mendalam.
Di satu sisi, negara gencar mengadopsi teknologi untuk memangkas inefisiensi melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Namun di sisi lain, standar keunggulan aparatur kita justru semakin terjebak dalam sekat formalisme yang kaku. Kita seolah sedang merayakan meritokrasi, padahal yang terjadi adalah pengukuhan kasta berburu ijazah yang semakin menjauh dari esensi pelayanan publik yang inklusif.
Jebakan Manusia Standar
Kritik tajam Jiang Xueqin dalam esainya yang bertajuk China's Test-Taking Machine di The Wall Street Journal memberikan cermin yang sangat jernih bagi situasi di Indonesia. Xueqin memperingatkan bahwa sistem yang hanya memuja skor ujian dan kualifikasi pendidikan formal pada akhirnya melahirkan manusia mekanik. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kapasitas kognitif tinggi untuk memecahkan soal di atas kertas, lihai menghafal regulasi, namun mendadak beku ketika berhadapan dengan sengkarut persoalan warga yang bernyawa.
Dalam ekosistem birokrasi kita, fenomena ini mewujud dalam ritualisme kompetensi. Standar kecakapan direduksi sebatas kepatuhan administratif yang steril dari denyut kehidupan nyata. Seseorang dianggap layak memimpin bukan karena rekam jejak inovasinya yang teruji di lapangan atau kepekaannya merangkul kelompok rentan, melainkan karena kelengkapan ijazah yang linier dan deretan sertifikasi yang rapi tertata.
Kondisi ini membuat proses belajar kehilangan fungsi luhurnya. Bangku pendidikan tidak lagi menjadi kawah candradimuka pengasahan daya nalar kritis dan keberanian moral, melainkan sebatas tiket legalitas untuk mengamankan jenjang kepangkatan. Pejabat yang dicetak oleh pabrik formalitas ini sangat piawai menyusun narasi laporan yang memukau atasan, namun gamang saat harus mengambil keputusan yang berpihak pada keadilan sosial. Akibatnya, kita kerap mendapati kebijakan publik yang tampak anggun dan tanpa cela dalam pasal-pasal hukum, namun terasa asing, kaku, serta tuna empati ketika bersentuhan langsung dengan penderitaan masyarakat.
Wajah Dingin Algoritokrasi
Masalah ini kian meruncing ketika meritokrasi mekanik tersebut kawin dengan logika kecerdasan buatan. Penilaian terhadap keringat, dedikasi, dan mutu pengabdian aparatur mulai dipasrahkan bulat-bulat kepada sistem manajemen informasi yang serba otomatis. Dalam era algoritokrasi ini, harkat dan martabat seorang abdi negara dipersempit menjadi sekadar deretan angka serta barisan data poin kuantitatif yang dingin.
Sistem hitung mesin memiliki watak dasar yang kaku, hanya terpikat pada hal-hal yang gampang dihitung secara matematis. Jam absen datang dan pulang yang tepat menit, gunungan berkas digital yang diunggah tepat waktu, hingga tumpukan sertifikat pelatihan daring langsung diganjar skor kinerja sempurna. Sebaliknya, keutamaan publik yang sesungguhnya bernilai luhur justru luput dari timbangan. Kejujuran menolak suap, ketulusan mendengarkan jeritan warga miskin di pelosok desa, keberanian menabrak kelaziman birokrasi demi menyelamatkan nyawa masyarakat, hingga keikhlasan merawat keguyuban sosial sama sekali tidak terbaca oleh sensor komputer.
Menyerahkan takdir karier seorang pamong kepada algoritma sama artinya dengan merawat birokrasi yang tuna nurani. Sistem ini memanjakan para birokrat penjilat yang pandai memanipulasi angka di layar kerja, sembari mematikan langkah para inovator lapangan yang berani mengambil risiko demi kepentingan orang banyak. Sosiolog Michael Young pernah mengingatkan bahaya ini lewat rumusannya bahwa jasa sejati lahir dari paduan bakat dan kerja keras. Ketika bakat dan kerja keras disempitkan menjadi urusan kepatuhan berkas elektronik, meritokrasi berbalik arah menjadi feodalisme modern yang bersembunyi di balik jubah intelektualitas semu.
Memulihkan Nalar Publik
Lantas jalan apa yang harus ditempuh untuk memulihkan marwah birokrasi kita? Kita perlu melakukan dekonstruksi terhadap makna meritokrasi itu sendiri. Pertama, pemerintah wajib mengurangi ketergantungan sempit pada formalitas gelar dan sertifikat. Kualifikasi pendidikan memang krusial sebagai standar dasar, namun ia tidak boleh menjadi berhala yang menutup pintu bagi kompetensi organik yang tumbuh dari pengalaman dan dedikasi lapangan.
Kedua, sistem penilaian kinerja harus bertransformasi dari sekadar penghitungan angka menjadi penilaian dampak sosial. Keberhasilan seorang birokrat tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak stempel administratif yang ia kumpulkan, melainkan seberapa besar masalah publik yang berhasil ia urai melalui solusi inovatif.
Ketiga, kita harus menempatkan teknologi sebagai suplemen, bukan substitusi dari nurani manusia. Di era di mana mesin bisa mengerjakan tugas teknis dengan sempurna, nilai paling mahal dari seorang aparatur negara adalah kebijaksanaannya. Meritokrasi yang sehat adalah sistem yang mampu menghargai manusia sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar komponen dalam mesin pemerintahan. Jika kita gagal melakukan redefinisi ini, kita mungkin akan memiliki birokrasi yang sangat efisien secara data, namun kehilangan jiwanya dalam melayani manusia.
Kemerdekaan sebuah bangsa sejatinya tidak pernah diukur dari seberapa rapi tumpukan berkas di meja kekuasaan atau seberapa canggih layar monitor di lembaga pemerintahan. Kemerdekaan sejati tercermin saat seorang warga yang paling ringkih mendapati pintu pelayanan terbuka lebar dengan penuh kehangatan dan keadilan rasa. Membiarkan birokrasi terus berjalan tanpa jiwa sama halnya dengan merawat penjajahan batin di tanah air sendiri. Sudah saatnya nalar pelayanan publik dimerdekakan kembali, demi menghadirkan negara yang bernyawa dan berpihak pada harkat kemanusiaan.