Connect With Us

Sidang Praperadilan, Polres Tangerang Akui Tak Kirim SPDP dalam Jangka Tujuh Hari

Achmad Irfan Fauzi | Selasa, 21 Desember 2021 | 16:00

Sidang Praperadilan kembali dibuka di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang. (@TangerangNews / Achmad Irfan Fauzi )

TANGERANGNEWS.com-Sidang praperadilan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang oleh hakim tunggal Emy Tjahjani Widiastoeti dengan agenda jawaban dari Tim Bidkum Polda Banten yang dipimpin Kombes Achmad Yudi Suwarso dengan tujuh anggota tim Bidkum lainnya.

Dalam sidang tersebut, Tim Bidkum memberikan jawaban dari permohonan praperadilan dengan keberatan atas permohonan yang diajukan oleh LQ Indonesia Lawfirm yang menyatakan bahwa perubahan permohonan dalam posita dan petitum. 

Bidkum Polda Banten dalam persidangan menjawab permohonan "bahwa dalam putusan MK Nomor 130/PUU-XIII/2015 terkait batas waktu tujuh hari SPDP harus diterima oleh Pemohon sama sekali tidak diatur sanksi bagi termohon dan tidak diatur akibat hukum terhadap belum diterimanya SPDP bila melewati tujuh hari." 

Menanggapi jawaban Bidkum Polda Banten, advokat Hamdani dari LQ Indonesia Lawfirm, menyebut dalam Pasal 109 ayat (1) KUHAP, jo Putusan MK No. 130/PUU-XIII/2015 kewajiban penyidik untuk memberikan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dalam waktu paling lambat tujuh hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Penyidikan kepada penuntut umum, terlapor, dan korban/pelapor.

Lanjutnya, Pasal 109 ayat (1) KUHAP berbunyi “Dalam hal penyidik telah memulai penyidikan suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana, penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum ” di mana dengan Putusan MK No. 130/PUU-XIII/2015 “ menyatakan Pasal 109 ayat (1) KUHAP bertentangan dengan UUD RI 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang frasa ‘Penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum’ tidak dimaknai penyidik wajib memberitahukan dan menyerahkan SPDP penyidikan kepada penuntut umum, terlapor, dan korban/pelapor dalam waktu paling lambat tujuh hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Penyidikan.”

"Jelas tertera isi undang-undang di atas, masyarakat bisa melihat inilah cara berpikir oknum Polri. Jika tidak ada sanksi dan akibat hukuman, maka tidak masalah bagi aparat penegak hukum melanggar hukum," tuturnya.

“Inilah akar dan penyebab banyaknya keluhan masyarakat dalam proses hukum dan kriminalisasi. Kali ini terang-terangan secara jujur Kabid Hukum Polda Banten mewakili Institusi Polda Banten menyuarakan, tidak apa melanggar hukum selama tidak ada sanksi hukum bagi Polri,” lanjut dia.

Advokat Alfan Sari dari LQ Indonesia Lawfirm juga menyatakan kekecewaannya. "Apakah boleh kepolisian melakukan penegakkan hukum dengan Hukum Acara Pidana yang melanggar hukum? Lalu apa bedanya polisi dengan terduga kriminal yang diproses apabila polisi dalam penegakan hukum dilakukan dengan cara melanggar hukum," katanya.

Menurutnya, menerima SPDP ini adalah salah satu hak konstitusional setiap warga negara sebagaimana diatur dalam pasal 28D ayat 1 UUD 1945 untuk kepastian hukum yang adil.

"Kata ‘adil’ untuk memastikan dalam penegakan hukum, aparat tidak melanggar HAM. Inilah kenapa kami publikasikan penanganan oknum Polda Banten, bisa dilihat oleh masyarakat luas, bagaimana masyarakat tidak boleh melanggar hukum, namun polisi boleh melanggar hukum asalkan tidak ada sanksi atau hukuman bagi si pelanggar. Pantesan Institusi Polri makin terpuruk, begini toh cara berpikir mereka," tuturnya.

 

Permintaan Tim Bidkum Polda Banten untuk mengundur Duplik satu hari ditolak oleh Hakim Emy Tjahjani Widiastoeti, karena akan membuat jangka waktu sidang melewati tujuh hari sebagaimana Amanah KUHAP.

 

Tim Bidkum yang kewalahan melawan materi telak dari LQ Indonesia Lawfirm membutuhkan waktu tambahan padahal sudah delapan orang tim kuasa Polda Banten.

 

"Agar jadi efek jera, untuk oknum Polri jangan sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya, penegakan hukum haruslah sesuai KUHAP dan tidak melanggar HAM. Para korban kriminalisasi oknum lainnya hubungi kami di 0817-489-0999," ujar Alfan Sari.

BANDARA
Ngaku Mau Liburan ke Kamboja, 3 WNI Digagalkan Berangkat Kerja Secara Ilegal di Bandara Soetta

Ngaku Mau Liburan ke Kamboja, 3 WNI Digagalkan Berangkat Kerja Secara Ilegal di Bandara Soetta

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:08

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta (Soetta) berhasil mencegah keberangkatan tiga warga negara Indonesia (WNI) yang diduga hendak bekerja secara ilegal atau nonprosedural di Kamboja.

TOKOH
Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:53

Slamet Suradio, masinis yang selamat dari peristiwa tabrakan kereta api dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia pada Rabu, 3 Juni 2026, dini hari.

HIBURAN
Program Liburan Sekolah di Hotel Episode Gading Serpong Pererat Hubungan Orang Tua-Anak

Program Liburan Sekolah di Hotel Episode Gading Serpong Pererat Hubungan Orang Tua-Anak

Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:43

Memasuki musim liburan sekolah, Hotel Episode Gading Serpong kembali menghadirkan program tahunan unggulannya.

BANTEN
Padam 3 Jam! Ini Jadwal Pemadaman Listrik Bergilir di Tangerang Raya Jumat Ini

Padam 3 Jam! Ini Jadwal Pemadaman Listrik Bergilir di Tangerang Raya Jumat Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 14:27

Sejumlah wilayah di Tangerang Raya akan mengalami pemadaman listrik bergilir pada Jumat, 19 Juni 2026. PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cikokol, Serpong, Teluknaga, dan Cikupa, mengumumkan penerapan manajemen beban sementara

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill