TANGERANGNEWS.com-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang kini mengebut sejumlah proyek strategis, salah satunya rencana pembangunan tambahan tiga fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF) pada tahun 2026.
Kepala DLH Kota Tangerang Wawan Fauzi memaparkan bahwa langkah progresif ini sangat krusial mengingat lonjakan produksi sampah yang sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang.
Saat ini, setiap individu rata-rata menyumbang hampir 1 kilogram sampah setiap harinya.
"Apalagi jumlah penduduk Kota Tangerang yang hampir menyentuh angka 2 juta jiwa, maka diproyeksikan timbulan sampah bisa segera melampaui 1.600 ton per hari pada tahun 2027," katan Wawan kepada TangerangNews, Selasa 7 Juli 2026.
Penambahan 3 Titik RDF Baru
Menyikapi masalah tersebut, DLH Kota Tangerang telah merancang skema fasilitas RDF Hub. Ke depannya sampah tidak lagi langsung dibuang atau ditumpuk di area landfill.
Namun, akan masuk terlebih dahulu ke pusat pengolahan untuk dipilah dan diproses menjadi RDF, seperti yang sudah diterapkan di TPA Rawa Kucing.
"Targetnya tahun ini kita akan menambah tiga titik fasilitas RDF baru. Jadi total kita punya empat RDF," ujar Wawan.
Untuk lokasinya yakni di Zona Barat akan dibangun di sekitar area eks-pabrik Chiki, Poris Plawad. Pendanaan direncanakan menggunakan program Local Service Delivery Project (LSDP) dari Kementerian Dalam Negeri.
Kemudian, Zona Tengah dibangun di TPST Benua Indah, Kecamatan Karawaci. Sedangkan di Zona Timur, RDF akan ditempatkan di TPS Dongkal, Cipondoh.
"Ketiga fasilitas baru tersebut akan melengkapi fasilitas RDF Hub utama yang akan dipusatkan di Pintu 1 TPA Rawa Kucing. Nantinya, sampah yang sudah diolah jadi bahan bakar dari berbagai titik tersebut akan diangkut (offtake) oleh pihak ketiga, yaitu PT Semen Holcim," jelas Wawan.
Wawan menargetkan fasilitas-fasilitas tersebut dapat mengolah sebagian besar sampah yang masuk. "Target kita ya kita punya obsesi yang cukup tinggilah ya. Kita berharap nantinya bisa bisa sampai mungkin di atas 500 ton per hari," harapnya.
Dorong Peran Aktif Warga
Meski berfokus pada teknologi hilir seperti RDF, Wawan menegaskan bahwa kunci utama penyelesaian masalah sampah tetap berada di hulu, yakni dari sumber rumah tangga.
Ia mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah secara mandiri menjadi dua kategori: sampah organik dan sampah anorganik.
"Sampah itu harus mulai kita kurangi dari sumber. Apa yang dimaksud dengan pengolahan sampah dari sumber? Dari rumah. Pertama, kita berharap masyarakat mau memilah, organik dan anorganik. Dua itu aja dulu, nggak perlu macam-macam," imbaunya.
DLH Kota Tangerang juga telah menyiapkan skema penyerapan sampah hasil pilahan tersebut. Untuk sampah anorganik, masyarakat diarahkan untuk menyetorkannya ke bank sampah unit yang ada di tingkat RT/RW.
"Nanti dari sana kita carikan offtaker-nya. Tapi kalaupun belum dapat, kami punya bank sampah induk di tingkat DLH," tambahnya.
Sementara itu, sampah organik diharapkan bisa diolah mandiri oleh warga, salah satunya dijadikan pupuk atau pakan ternak.
Menurut Wawan, jika langkah-langkah inovatif dan gerakan kolaboratif ini tidak segera digalakkan, bukan tidak mungkin TPA Rawa Kucing dan seluruh TPA di Indonesia, akan segera mencapai batas kemampuannya.
"Kita diminta terus melakukan inovasi, terus melakukan gerakan-gerakan. Kenapa? Kalau nggak kayak gitu, umur TPA kita udah kritis. Semua TPA di Indonesia udah kritis. Kalau kita nggak lakukan pengolahan dari sumber, selesai kita," pungkas Wawan dengan tegas.