Jadi Pemasok ke NTT, Warga Aceh Ditangkap di Tangerang Simpan 42 Ribu Butir Narkoba dan Obat Keras
Senin, 18 Mei 2026 | 21:15
Direktorat Reserse Narkoba Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menggulung jaringan pengedar psikotropika lintas pulau.
TANGERANGNEWS.com- BMKG memperkirakan musim kemarau di Indonesia akan dimulai sejak Maret hingga Juni 2025, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, transisi angin Monsun Asia ke Monsun Australia menjadi faktor utama yang menyebabkan peralihan musim ini.
Berdasarkan pemantauan suhu muka laut di awal Maret 2025, fenomena La Nina di Samudra Pasifik telah bertransisi ke fase netral El Nino Southern Oscillation (ENSO).
Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga berada dalam kondisi netral dan diprediksi tetap demikian sepanjang musim kemarau.
"Saat ini di bulan Maret, tanggal 13 Maret 2025, BMKG menyatakan bahwa La Nina telah berakhir dan musim kemarau 2025 diprediksi normal. Artinya segala sesuatunya berjalan lebih kondusif dari segi cuaca," jelas Dwikorita dilansir dari CNN Indonesia, Senin, 17 Maret 2025.
Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991-2020, awal musim kemarau 2025 di Indonesia memiliki variasi. BMKG memperkirakan, sebagian wilayah akan mengalami musim kemarau sesuai dengan normalnya, sementara daerah lain akan mengalami kemarau yang datang lebih lambat atau lebih cepat.
Wilayah yang diprediksi mengalami awal musim kemarau sesuai dengan pola normalnya meliputi Sumatera, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, serta sebagian Maluku dan Maluku Utara.
Sementara itu, Kalimantan bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Sulawesi, Maluku Utara, dan Merauke diperkirakan mengalami musim kemarau yang datang lebih lambat dibandingkan biasanya.
BMKG juga memprediksi sifat musim kemarau 2025 akan bervariasi. Sebagian besar wilayah akan mengalami musim kemarau yang bersifat normal, namun ada pula yang akan mengalami curah hujan lebih tinggi atau lebih rendah dari biasanya. Wilayah yang diperkirakan mengalami musim kemarau lebih basah dibandingkan normalnya mencakup Aceh, Lampung, Jawa bagian barat dan tengah, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian kecil Sulawesi dan Papua bagian tengah.
Sedangkan, Sumatera bagian utara, Kalimantan Barat, Sulawesi tengah, Maluku Utara, dan Papua bagian selatan diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.
Dwikorita mengimbau agar sektor pertanian menyesuaikan jadwal tanam, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal atau lebih lambat, serta memilih varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan.
Adapun wilayah yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah disarankan untuk memanfaatkannya dengan memperluas lahan sawah guna meningkatkan produksi pertanian.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan semua pihak agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan normal atau di bawah normal.
Direktorat Reserse Narkoba Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menggulung jaringan pengedar psikotropika lintas pulau.
TODAY TAGSejumlah persyaratan hingga jadwal pendaftaran pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 untuk jenjang SD dan SMP telah diumumkan.
Helita, asisten digital berbasis Artificial Intelligence (AI) milik Pemkot Tangsel, langsung menjadi primadona baru sejak dirilis.
Penggunaan pembayaran digital di Provinsi Banten terus melonjak sepanjang awal 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten mencatat nilai transaksi menggunakan QRIS mencapai lebih dari Rp34 triliun.
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews