Connect With Us

Sampah Menggunung Dekat Stasiun Sudimara

Yudi Adiyatna | Kamis, 4 April 2019 | 21:35

Kondisi tumpukan sampah di pinggir rel kereta api di Pintu masuk Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangsel. (TangerangNews/2019 / Yudi Adiyatna)

 

 

TANGERANGNEWS.com-Tumpukan sampah menggunung di pinggir rel kereta api di pintu masuk Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangsel mulai mengkhawatirkan. 

Tumpukan sampah tersebut berasal dari pembuangan sampah warga sekitar selain membuat pemandangan di sekitar tampak jorok dan kumuh, juga berpotensi menjadi sarang penyakit.

Ari, warga setempat mengatakan, tumpukan sampah yang memiliki tinggi hampir dua meter dan panjang sekitar 100 meter tersebut sudah ada sejak lama, karena lokasi itu jadi tempat pembuangan sampah warga karena ketiadaan tempat pembuangan sampah di wilayah tersebut.

Kondisi tumpukan sampah di pinggir rel kereta api di Pintu masuk Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangsel.

Kondisi tumpukan sampah di pinggir rel kereta api di Pintu masuk Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangsel.

"Ya emang enggak ada tempatnya. Orang-orang pada buangin aja jadinya di situ," ujar Ari, Kamis (4/4/2019).

Ari juga mengatakan, sumber sampah itu bukan hanya datang dari warga sekitar, melainkan juga dari beberapa warga lainnya termasuk dari para pedagang di Pasar Jombang. 

Jenis sampah tersebut pun beragam, mulai dari sampah rumah tangga, buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah membusuk.

"Apa lagi pas musim buah, lalatnya aduh luar biasa. Nah ini sisanya ini," ujarnya sambil menunjuk ke tumpukan sampah.

Ari juga mengungkapkan, selama ini sampah tersebut hanya dibakar oleh warga sekitar untuk mengurangi tinggi tumpukannya. Selain itu, jika musim hujan, sampah juga terbawa air lewat saluran air sekitar. 

"Yang repot kalau habis hujan. Sampahnya pada basah, sudah susah dah kalau begitu. Belum lagi yang kebawa air. Ya pada nyangkut dimana-mana," ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Tangsel Toto Sudarto, mengatakan, pihaknya sudah melakukan peninjauan langsung bersama pihak PT KAI dan akan mencari solusi secepatnya menangani permasalahan tersebut .

"Sudah lama sebetulnya, cuma kan kita dengan PT KAI belum ketemu, baru hari ini ketemunya. Ya mudah-mudahan ada jalan keluar, nanti kita rapatkan dulu. Bagaimana caranya biar ada kendaraan yang masuk kesitu untuk membersihkan," ujar Toto saat dihubungi awak media.

Ia mengatakan, salah satu kendala dari untuk membersihan sampah itu adalah akses yang sempit karena berada di pinggir rel. 

"Ya kita bersihkan, kita clear-kan, masyarakat jangan membuang lagi disitu. Kalau dibersihkan namun buang lagi, ya ngapain," ujarnya. (RMI/HRU)

NASIONAL
Bos Buruh Klaim Pabrik PHK Massal Bukan karena Upah Tinggi, Ini Empat Penyebabnya

Bos Buruh Klaim Pabrik PHK Massal Bukan karena Upah Tinggi, Ini Empat Penyebabnya

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:45

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai kenaikan upah minimum bukan penyebab utama penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

KAB. TANGERANG
Bareskrim dan BNN Grebek Kelab Malam di PIK 2 Tangerang, 6 Positif Narkoba

Bareskrim dan BNN Grebek Kelab Malam di PIK 2 Tangerang, 6 Positif Narkoba

Minggu, 18 Oktober 2026 | 21:31

Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar operasi penertiban narkotika skala besar di sejumlah kelab malam di wilayah Jakarta dan Tangerang.

TEKNO
Fundamental dan Teknikal Solana di Akhir Tahun 2026

Fundamental dan Teknikal Solana di Akhir Tahun 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:16

Solana memasuki akhir 2026 dengan sejumlah katalis yang dapat menentukan arah harga SOL. Pertumbuhan ekosistem, aktivitas jaringan, pengembangan aplikasi terdesentralisasi, serta kondisi pasar kripto menjadi faktor fundamental yang perlu

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill