Connect With Us

DPKP Tangsel Curigai 8 Jenis Buah Impor Berbahaya

| Jumat, 13 Juli 2012 | 18:31



TANGERANG- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Tangsel mencurigai beredarnya 8 jenis buah impor berbahaya. Untuk itu, pihaknya terus mengawasi ketat peredarannya di pasaran. Hari ini, (12/7), DPKP mengambil 8 sampel buah dari salah satu toko khusus buah-buahan di kawasan Alam Sutera, Serpong Utara, Kota Tangsel. Hal itu untuk mendeteksi keamanan buah yang ditengarai menggunakan bahan kimia seperti formalin dan pestisida untuk mengawetkannya.

   "Pertama, kita melakukan pengawasan sesuai dengan Undang-Undang Nomor: 28 Tahun 2004, tentang Keamanan Pangan. Yang mana, khusus untuk pangan impor dalam hal ini buah mesti memiliki surat keterangan keamanan dari laboratorium negara asalnya," kata Ferry Payacun, Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan DPKP Kota Tangsel.

    Dari pengawasan itu, Ferry mengatakan, ada beberapa buah yang tidak disertakan dengan surat keterangan dari laboratorium negara asalnya. Kemudian, buah-buah tersebut diambil oleh DPKP untuk diuji di laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sebelumnya sudah melakukan kerja sama dengan DPKP Kota Tangsel.

    "Kurang lebih ada 8 jenis buah-buahan yang kita jandikan sampel untuk diperiksa di laboratorium IPB," tambahnya. Buah yang diambil sampel adalah, apel, jeruk, pir, dan sejumlah sayur-sayuran. Setelah pengambilan itu, lanjut Ferry, baru kemudian 3 minggu ke depan hasilnya akan diketahui. Apakah, buah-buah tersebut berbahaya, atau tidak. "Nanti setelah 3 minggu lagi, silakan konfirmasi ke kita. Dan, jika hasil laboratorium itu ternyata menunjukkan barang berbahaya, kita akan melakukan tindakan tegas. Meminta kepada pedagang untuk menarik buah-buahan tersebut," katanya.

    Kepala Bidang Pertanian Mispan menambahkan, pengawasan itu juga dilakukan lantaran belakangan ini diindikasikan buah-buahan yang beradar banyak mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Salah satunya adalah formalin. Bahan ini digunakan, untuk mengawetkan buah, agar tidak cepat busuk atau masa matang bertahan lama. "Kami tidak bisa melakukan tindakan sebelum kami lakukan penelitian di laboratorium," terangnya.

    Selain mengandung formalin, diindikasikan buah-buah tersebut juga mengandung pestisida, yaitu bahan kimia yang biasa digunakan petani saat masa panen. Padahal, bahan ini berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia. "Bahkan, hasil survei menemukan bahwa, apabila kita mengkonsumsi makanan yang mengandung pestisida dalam jangka panjang, akan menyebabkan mengubah perilaku seseorang menjadi ke banci-bancian," jelas Mispan.

    Untuk pestisida tersebut, kata Mispan banyak diproduksi di seluruh negara. Hanya saja, untuk Indonesia, pembuatan pestisida sudah menggunakan bahan-bahan nabati yang tidak mengandung efek membahayakan. Sementara, di negara lain belum diketahui. Sehingga, fokus pengawasan ini untuk buah-buah yang berasal dari negara asing. Seperti China, Amerika, dan Kanada yang banyak beradar di pasaran.

    "Biasanya, dilakukan dengan cara penyemprotan. Agar panennya bagus, menggunakan bahan yang mengandung pestisida. Kemudian, ini biasanya ada yang mengendap di dalam buah. Sehingga, bisa termakan oleh manusia," tuturnya.

    Adapun formalin, dimasukkan ke buah adalah untuk mengawetkan masa kematangan buah. Secara awam, buah yang mengandung formalin ini bisa dilihat dari usia buah. Yakni, lamanya buah setelah dipetik dari pohonnya. "Memang, tidak kelihatan. Tapi kita tanya saja, sudah berapa lama buah tersebut berada di pasar. Lalu, bandingkan dengan buah biasa atau yang kita petik sendiri. Yang tidak menggunakan pengawet, akan lebih cepat busuk," kata Mispan. (BRA)
MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

KOTA TANGERANG
Mutasi Kendaraan Masuk Banten Dapat Diskon 20 Sampai 40 Persen

Mutasi Kendaraan Masuk Banten Dapat Diskon 20 Sampai 40 Persen

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:18

Kabar baik bagi masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor dari luar Provinsi Banten dan berencana melakukan mutasi masuk.

OPINI
Sandera Dana Desa Demi Bebas Asap

Sandera Dana Desa Demi Bebas Asap

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:31

Kebakaran hutan dan lahan merupakan tantangan tata kelola yang berulang setiap siklus musim kemarau di Indonesia. Keterlambatan respons mesin birokrasi pemerintah daerah maupun pusat tidak sekadar berakar pada persoalan anomali cuaca.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill