Connect With Us

Hari Pahlawan, Yuk Napak Tilas Perjuangan Daan Mogot di Museum Juang Taruna Tangerang

Rangga Agung Zuliansyah | Kamis, 10 November 2022 | 17:05

Sejumlah pelajar mengunjungi Museum Juang Taruna di Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Kamis 10 November 2022. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperingati Hari Pahlawan pada 10 Novemeber, salah satunya melakukan napak tilas di Museum Juang Taruna, yang terletak di Kelurahan Sukaasih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.

Didalam gedung berwarna putih ini, menyajikan sejarah mengenai peristiwa pertempuran Lengkong. Peristiwa yang menewaskan sejumlah perwira dan taruna di antaranya Mayor Daan Mogot. 

Terdapat 56 foto taruna saat melakukan pendidikan di Akademi Militer Tangerang dan sederet foto Pertempuran di Desa Lengkong.

Catatan tentang sejarah pertempuran Lengkong pun terdapat di Museum Juang Taruna ini, sehingga atmosfer perjuangan dan sejarah para pahlawan di masa itu pun dapat dirasakan. 

Sepenggal cerita peristiwa pertempuran di Desa Lengkong Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dijelaskan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang Rizal Ridolloh. Ia mengatakan, peristiwa itu terjadi pada 25 Januari 1946 dengan melawan pasukan Jepang. 

"Kejadian peristiwa ini berawal saat Mayor Daan Mogot yang memimpin Taruna Akademi Militer Tangerang bersama para Taruna mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong dalam rangka pelucutan senjata," ungkap Rizal. 

Lanjutnya, disitu lah terjadi pertempuran berdarah dan para tentara Jepang kembali merebut senjata yang telah diserahkan. Sebanyak 33 taruna dan tiga perwira pun gugur dalam kejadian itu, termasuk Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo.

Untuk mengenangnya, Museum Juang Taruna atau Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna di Jalan Daan Mogot Mota Tangerang dan Monumen Lengkong di Serpong dibuat.

"Harapannya, museum ini bisa menjadi lokasi edukasi untuk masyarakat khsususnya para pelajar. Untuk merasakan semangat para taruna dalam melakukan perjuangan dan dapat diimplementasikan di era saat ini, dengan kemampuan dan bakatnya masing-masing," papar Rizal. 

Menurut Rizal, Museum Juang Taruna atau TMP Taruna dibuka untuk umum dan menerima kunjungan dari mana pun. Tak sedikit menjadi agenda kunjungan sekolah-sekolah.

"Jadi, siapa pun yang mau belajar dan melihat langsung pejuang Tangerang TMP Taruna terbuka untuk umum dan gratis," jelasnya.

Sementara itu, Santi, Kepala RA Al Irnusoyah, Kecamatan Batuceper di momen Hari Pahlawan tahun ini membawa 20 muridnya, ke TMP Taruna untuk mempelajari sejarah pahlawan Tangerang.

"Ini agenda tahunan kami. Dengan harapan, mereka mengenal dan mengetahui sedikit sejarah pahlawannya, sehingga mereka bisa memiliki jiwa pahlawan untuk kehidupan mereka kedepannya," katanya.

MANCANEGARA
WEF Proyeksikan Badai PHK Berlanjut hingga 2030, Penyebabnya Gegara AI 

WEF Proyeksikan Badai PHK Berlanjut hingga 2030, Penyebabnya Gegara AI 

Kamis, 8 Januari 2026 | 13:17

Pergantian tahun belum membawa angin segar bagi pasar tenaga kerja global. Ancaman pemutusan hubungan kerja diperkirakan masih akan membayangi hingga beberapa tahun ke depan, bahkan berpotensi berlangsung sampai 2030.

SPORT
Rebut 3 Poin, Ini Resep Persita Patahkan Kutukan Tak Pernah Menang dari Borneo FC

Rebut 3 Poin, Ini Resep Persita Patahkan Kutukan Tak Pernah Menang dari Borneo FC

Senin, 12 Januari 2026 | 11:38

Persita Tangerang berhasil mengalahkan Borneo FC dengan skor 2-0 pada pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026 dalam laga yang berlangsung di Indomilk Arena, Jumat, 9 Januari 2026, lalu.

NASIONAL
Berkendara Lawan Arah Bisa Dipenjara 5 Tahun

Berkendara Lawan Arah Bisa Dipenjara 5 Tahun

Minggu, 11 Januari 2026 | 11:35

Masih berani melawan arah demi menghemat waktu beberapa menit? Sebaiknya pikirkan berkali-kali. Selain mempertaruhkan nyawa, tindakan ceroboh ini bisa menyeret Anda ke balik jeruji besi hingga 5 tahun penjara.

HIBURAN
Penggagas Soundtrack KKN di Desa Penari Ciptakan Lagu Tepis Stereotip Horor Gunung Kawi

Penggagas Soundtrack KKN di Desa Penari Ciptakan Lagu Tepis Stereotip Horor Gunung Kawi

Jumat, 9 Januari 2026 | 13:50

Musisi asal Gunung Kawi, Matoha Mino, merilis lagu berjudul Gunung Kawi sebagai bentuk respons terhadap persepsi yang menurutnya keliru dan telah lama berkembang di masyarakat terkait stigma tentang Gunung Kawi

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill