TANGERANGNEWS.com-AirNav Indonesia melakukan lompatan besar dalam dunia navigasi penerbangan dengan mengimplementasikan Air Traffic Management Automation System (ATMAS).
Sistem otomatisasi mutakhir ini kini menjadi sorotan dunia internasional karena dinilai mampu mengubah wajah manajemen lalu lintas udara Indonesia menjadi jauh lebih efektif, aman, dan efisien.
Direktur CANSO Regional Asia Pasifik Poh Theen Soh yang meninjau langsung implementasi ini pada 13-14 April 2026, menyebut teknologi yang diadopsi AirNav Indonesia sebagai langkah progresif yang sejajar dengan praktik terbaik global.
Salah satu perubahan paling signifikan yang dibawa oleh ATMAS adalah digitalisasi komunikasi antara pemandu lalu lintas udara (ATC) dan pilot.
"Dalam dua tahun terakhir, dengan anggaran yang efisien, AirNav berhasil melakukan transformasi signifikan melalui modernisasi sistem manajemen lalu lintas udara secara menyeluruh di empat wilayah operasionalnya, yaitu di Jakarta, Balikpapan, Medan dan Pontianak," katanya.
Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap menjelaskan bahwa sistem ini secara teknis mereduksi beban kerja komunikasi secara drastis.
"Waktu komunikasi yang biasanya memakan 2 hingga 3 menit per percakapan, kini dipangkas menjadi hanya hitungan detik saja. Cukup satu atau dua klik, koordinasi selesai. Ini memberikan kepastian yang lebih tinggi bagi pilot dan mengurangi potensi keterlambatan (delay) bagi penumpang," jelasnya.
Integrasi Teknologi dan Keamanan Berlapis
ATMAS bukan sekadar alat komunikasi, melainkan platform terpadu yang menyatukan berbagai fungsi navigasi canggih dengan kelebihan utama sebagai berikut:
1. Surveillance Terintegrasi
Menggabungkan data radar, ADS-B, dan ADS-C secara real-time.
2 Fitur Keselamatan Dini
Dilengkapi dengan Advanced Safety Net seperti Short Term Conflict Alert (STCA) dan Minimum Safe Altitude Warning (MSAW) untuk mendeteksi potensi konflik antar pesawat secara otomatis.
3. Manajemen Kapasitas
Terintegrasi dengan sistem Air Traffic Flow Management (ATFM) untuk menyeimbangkan jumlah pesawat dengan kapasitas ruang udara yang ada.
Dampak Nyata bagi Ekonomi dan Keselamatan
Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro menekankan bahwa penerapan ATMAS membuat kapasitas ruang udara dan runway meningkat berlipat-lipat.
"Peningkatan keselamatan dan efisiensi waktu ini secara langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi karena mobilitas udara menjadi lebih lancar," tuturnya.
Saat ini, sistem ATMAS telah beroperasi penuh di Balikpapan (sejak 7 April 2026), Medan, dan Pontianak. Sementara itu, jantung lalu lintas udara Indonesia di Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC) dijadwalkan akan mengadopsi sistem ini secara penuh pada Juni 2026.