Connect With Us

Kontroversial, Link Nonton Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI

Fahrul Dwi Putra | Senin, 30 September 2024 | 05:51

Poster film G 30 S PKI (@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI selalu menjadi bahan perbincangan di Indonesia setiap memasuki 30 September. 

Rilis pada 1984, film ini diproduksi sebagai dokudrama yang menggambarkan peristiwa bersejarah pada 1965 yang berujung pada jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno dan naiknya Soeharto. 

Disutradarai oleh Arifin C. Noer dan diproduksi dengan dukungan penuh dari pemerintah Orde Baru, film ini dibuat berdasarkan narasi dari pemerintah tentang upaya kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sinopsis Singkat Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI

Film ini menggambarkan detik-detik menjelang Gerakan 30 September, ketika enam jenderal militer Indonesia diculik dan dibunuh oleh pihak yang diduga berafiliasi dengan PKI. 

Alur cerita juga memperlihatkan bagaimana kondisi politik dan ekonomi Indonesia yang sedang kacau, dengan PKI yang semakin kuat di bawah dukungan Presiden Soekarno. 

Di sisi lain, Mayor Jenderal Soeharto digambarkan sebagai tokoh sentral yang menghentikan kudeta tersebut dan kemudian mengambil alih kekuasaan sebagai pemimpin Indonesia.

Adegan-adegan yang paling kontroversial antara lain penyiksaan terhadap para jenderal, yang dalam film ini digambarkan dengan sangat brutal. Film ini juga mengangkat citra PKI sebagai kekuatan jahat yang menikmati kekerasan, salah satunya melalui adegan penari Gerwani yang diduga menyiksa jenderal-jenderal yang mereka culik.

Propaganda Orde Baru

Film ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik pada masa itu. Selama era pemerintahan Soeharto, film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI digunakan sebagai alat propaganda. 

Setiap 30 September, film ini wajib ditayangkan di TV nasional, TVRI, dan menjadi tontonan wajib bagi seluruh pelajar dan masyarakat Indonesia. Narasi yang disampaikan dalam film ini dianggap sebagai versi resmi peristiwa tersebut oleh pemerintah.

Setelah jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, penayangan film ini tidak lagi diwajibkan. Namun, diskusi mengenai akurasi sejarah dalam film ini masih terus terjadi hingga sekarang. 

Banyak ahli sejarah dan akademisi yang mempertanyakan apakah versi peristiwa dalam film ini benar-benar sesuai dengan fakta sejarah, atau sekadar menjadi alat politik untuk melanggengkan kekuasaan Orde Baru.

Link Nonton Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI

Bagi yang ingin menonton film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, dapat menemukan film ini di berbagai platform. Namun, penting untuk dicatat bahwa versi digital film ini sering kali ditampilkan dalam bentuk restorasi untuk menjaga kualitas visual dan audio yang sudah tua. 

Beberapa stasiun TV lokal juga kadang menayangkannya kembali setiap 30 September sebagai bagian dari peringatan G30S.

Berikut beberapa platform yang biasanya menyediakan link nonton film ini:

  • YouTube – Banyak akun yang mengunggah ulang film ini, meskipun kualitasnya bisa bervariasi.
  • tvOne – Beberapa tahun terakhir, tvOne kerap menayangkan film ini pada 30 September malam WIB.
  • Website Penyedia Film seperti Vidio.com  atau Bstation
SPORT
Cari Bibit Unggul Sepak Bola di Tangerang, 48 Tim Bakal Berlaga dalam Rajawali Junior League 2026

Cari Bibit Unggul Sepak Bola di Tangerang, 48 Tim Bakal Berlaga dalam Rajawali Junior League 2026

Senin, 3 Agustus 2026 | 22:17

Ajang kompetisi sepak bola usia dini bertajuk Rajawali Junior League (RJL) 2026 siap digulirkan oleh RTV pada 29–30 Agustus 2026 di Sport Center Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

BANTEN
Aktivis Virdian Aurellio Beberkan Carut Marut Banten: Dari Dinasti Politik, Korupsi hingga Infrastruktur Buruk

Aktivis Virdian Aurellio Beberkan Carut Marut Banten: Dari Dinasti Politik, Korupsi hingga Infrastruktur Buruk

Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:00

Aktivis sekaligus konten kreator muda, Virdian Aurellio menyoroti berbagai persoalan yang melanda Provinsi Banten.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill