Connect With Us

RSK Sitanala Tangerang Dituding Telantarkan Pasien Kusta

Achmad Irfan Fauzi | Kamis, 28 Maret 2019 | 21:00

Para penderita kusta yang tergabung dalam Forum Komunitas Kusta Kota Tangerang saat berbagi cerita tentang pelayanan yang diterimanya di Rumah Sakit Kusta (RSK) Sitanala, di gedung DPRD Kota Tangerang, Kamis (28/3/2019). (@TangerangNews / Achmad Irfan Fauzi)

TANGERANGNEWS.com-Para penderita kusta mengeluh terhadap pelayanan yang diterimanya di Rumah Sakit Kusta (RSK) Sitanala, Neglasari, Kota Tangerang.

Mereka mengaku kerap diterlantarkan pasca melakukan operasi kusta meskipun kondisi kesehatannya belum pulih, bahkan masih berdarah-darah.

Keluh kesah ini disampaikan para penderita kusta yang tergabung dalam Forum Komunitas Kusta Kota Tangerang yang notabene warga RW 13, Komplek Serbaguna RSK Sitanala, Neglasari kepada anggota DPRD Kota Tangerang.

Diceritakan Syamsudin, salah satu penderita kusta, ia memiliki pengalaman yang menyedihkan pada tahun 2018 lalu. Saat itu, ia menjalani operasi amputasi pada ibu jarinya.

Namun, ia tidak diperbolehkan menginap selama tiga hari. Kemudian ia meski rela menanggung sakit, karena dikeluarkan oleh pihak RSK Sitanala saat kondisinya masih belum pulih.

"Permasalahan yang saya alami sewaktu dioperasi dan offname, besoknya langsung disuruh pulang padahal masih berdarah-darah," ujarnya kepada TangerangNews di gedung DPRD Kota Tangerang, Kamis (28/3/2019).

Selain Syamsudin, Hawi juga mengalami hal serupa. Ia mengatakan, disuatu hari pada tahun 2018 pula, ia menjadi pasien di RSK Sitanala karena kakinya menderita kusta.

"Sama saya juga. Hari pertama offname, hari kedua operasi. Pas habis operasi saya disuruh keluar walaupun saya sudah memohon untuk masih dirawat tapi tetap diusir dengan alasan peraturan pemerintah," jelas Hawi.

Sementara Komarudin, pasien kusta lainnya, mengaku menjadi pasien spesial di RSK Sitanala dibanding pengalaman rekan-rekannya. Sebab, ia mendapatkan perawatan yang sangat layak oleh pihak rumah sakit saat ia menjadi pasien pada tahun 1980-an.

"Keluhan saya banyak, sampai tidak terhitung. Tapi saya mah pasien emas karena full pelayanannya pas saya dioperasi TPT," jelas eks pegawai RSK Sitanala ini.

Ia mengatakan, pelayanan di RSK Sitanala sudah berubah. Saat memasuki tahun 2000 hingga sekarang. Menurutnya pelayanan lebih memprioritaskan pasien umum dibanding pasien kusta. Padahal, RSK Sitanala khusus untuk menangani pasien kusta.

"Memang kenyataannya seperti itu. Kok dulu saya dirawat sampai kenyang. Tapi pas dirawat lagi tahun 2015 malah tidak sesuai harapan," ucapnya.

Sedangkan pasien lainnya, Suryadi, mengaku enggan melakukan perawatan di RSK Sitanala. Sebab kata dia, dirasa percuma datang ke rumah sakit tersebut karena ia menganggap tak akan dilayani.

"Saya mah sudah sembuh. Tapi pas sakit enggak mau lagi ke rumah sakit Sitanala karena percuma. Lebih baik sakit daripada enggak ditanggapi," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunitas Kusta Kota Tangerang Amri menyampaikan bahwa para pasien kusta yang mengalami perlakuan di RSK Sitanala tersebut sangat banyak.

"Sekarang penderita kusta di Kota Tangerang ada 300an. Dan memang banyak yang mendapatkan pelayanan seperti ini," tuturnya.

Menurutnya, pelayanan di RSK Sitanala sudah beralih fungsi. Para pasien kusta yang menjalani pengobatan di rumah sakit tipe A khusus kusta tersebut tak diperhatikan.

"Pelayanannya itu kalau dulu namanya kusta itu benar-benar sampai sembuh baru dikeluarkan, biasanya 6 bulan dulu dirawat. Jika secara medis sembuh, baru dikeluarkan," ucapnya.

Anggota DPRD Kota Tangerang HM Sjaifuddin Z Hamadin menyebut pelayanan di rumah sakit tersebut terjadi disorientasi. Hal ini, kata dia, tidak boleh dibiarkan.

"Saya kira ini tidak bisa dibiarkan karena mereka itu bagian warga kota juga. Ini empati kita bahwa permasalahannya harus diselesaikan. RS Sitanala itu melakukan pembiaran terhadap orang-orang yang punya penyakit kusta dan baru sehari dipulangkan. Kalau pun misalnya mereka pasien BPJS harus ada skema khusus," papar Wakil Ketua Fraksi PAN ini.

Ia menambahkan, seluruh pihak terkait harus mengatasi persoalan yang menyangkut hak para penderita kusta ini.

"Perihal ini akan saya komunikasikan dengan Kemenkes, juga dengan Komisi 9 DPR RI," tukasnya.(MRI/RGI)

OPINI
Meritokrasi Tanpa Jiwa

Meritokrasi Tanpa Jiwa

Senin, 17 Agustus 2026 | 19:33

Peringatan kemerdekaan republik ini sejatinya memanggil kembali janji emansipasi yang paling mendasar, yakni pembebasan nalar manusia dari segala bentuk perhambaan feodal.

KAB. TANGERANG
DPR RI Bahas Soal Premanisme saat Kunker ke Kawasan Industri Tangerang, Bupati Klaim Tidak Ada Laporan

DPR RI Bahas Soal Premanisme saat Kunker ke Kawasan Industri Tangerang, Bupati Klaim Tidak Ada Laporan

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:36

Panitia Kerja (Panja) Penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kawasan Industri Cikupa Mas, Kabupaten Tangerang, Rabu 26 Agustus 2026.

KOTA TANGERANG
Bupati Tangerang Sebut Banyak Perusahaan Tidak Laporkan Program CSR

Bupati Tangerang Sebut Banyak Perusahaan Tidak Laporkan Program CSR

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:10

Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid secara blak-blakan menyoroti masih banyaknya perusahaan yang tidak melaporkan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) mereka kepada pemerintah daerah.

SPORT
Arena Hockey Bakal Dibangun di Kota Tangerang pada 2027

Arena Hockey Bakal Dibangun di Kota Tangerang pada 2027

Senin, 24 Agustus 2026 | 10:40

Kota Tangerang kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang olahraga nasional dengan menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Hockey Indoor 2026 yang diikuti oleh atlet-atlet dari 12 provinsi di GOR Nambo.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill