Connect With Us

Pakar Gizi Usul Program MBG Dikelola Masing-masing Sekolah

Fahrul Dwi Putra | Jumat, 9 Januari 2026 | 12:15

Pelaksanaan MBG di SMKN 7 Kabupaten Tangerang. (@TangerangNews / Muhamad Yusri Hidayat)

TANGERANGNEWS.com- Setahun berjalan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih memerlukan evaluasi lantaran munculnya sejumlah persoalan di lapangan, mulai dari kasus dugaan keracunan massal hingga kekhawatiran soal keamanan pangan. 

Dosen Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM) Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih menilai secara konsep program makan siang di sekolah seperti MBG memiliki tujuan yang sangat baik dan telah lama diterapkan di banyak negara.

“Terlepas dari agenda politik, program school lunch ini sudah diterapkan di berbagai dunia yang mana merupakan agenda yang memang wajib bagi negara terhadap warga negaranya,” ujar Mirza, dalam keterangannya, Jumat, 9 Januari 2026.

Namun, Mirza menilai implementasi di lapangan masih menyisakan celah, terutama pada aspek pengawasan penyediaan makanan. 

Menurutnya, kasus keracunan massal berkaitan dengan kelalaian dalam proses penyiapan dan distribusi makanan.

Oleh karena itu, salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah memberikan tanggung jawab pengelolaan MBG kepada masing-masing sekolah. Sebab, dengan cakupan yang lebih kecil sekolah dinilai lebih mampu mengawasi kualitas bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada siswa.

“Jadi kesalahan dalam distribusi makan, kesalahan dalam keamanan pangan itu bisa terminimalisir,” ucapnya.

Mirza menjelaskan, dalam penyelenggaraan makanan sebenarnya sudah terdapat regulasi yang mengatur tata kelola secara rinci, termasuk penggolongan kelompok berisiko. 

Anak sekolah dan ibu hamil, kata dia, masuk dalam kelompok risiko tinggi sehingga penanganannya harus dilakukan secara ketat dan tidak sembarangan.

“Kelompok risiko tinggi ini penanganannya tidak bisa dilakukan dengan main-main,” ungkap Mirza.

Selain pengawasan, ia juga menyoroti menu MBG yang dinilai masih berpotensi menggunakan ultra processed food atau UPF. 

Penggunaan makanan ultra-proses ini dianggap tidak sejalan dengan kampanye Kementerian Kesehatan terkait pengurangan konsumsi gula, garam, dan lemak.

“Anak-anak diberi UPF, di situ ada natrium, gula tambahan, dan lemak. Dampaknya mungkin tidak terlihat sekarang, tapi 10–15 tahun ke depan akan menjadi bom waktu penyakit kronis,” ujarnya.

Meski begitu, Mirza menyebut keberhasilan MBG tidak bisa diukur dalam waktu singkat. Kata dia, dampak investasi gizi baru dapat terlihat setelah satu siklus pendidikan, sekitar 10 hingga 15 tahun ke depan.

Ia juga meminta pihak-pihak terkait memanfaatkan bahan pangan lokal yang beragam dan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

“Papua tidak bisa disamakan dengan Jawa atau Sumatra. Bahan pangan pokoknya berbeda. Kalau semua diseragamkan dengan UPF, itu justru tidak pas dengan konteks lokal,” tuturnya.

Sebagai langkah perbaikan, Mirza mengimbau perlunya penegakan keamanan pangan yang lebih tegas, termasuk pemberian sanksi kepada pihak yang lalai.

Ia juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi dan lintas sektor untuk mendampingi pelaksanaan MBG, terutama dalam memantau dampaknya terhadap kesehatan anak.

“Mungkin SPPG yang melanggar wajib di-punish agar semua pihak benar-benar berhati-hati. Ini amanah besar karena membawa wajah presiden,” katanya.

Ia menambahkan, kebijakan MBG harus bersifat terbuka terhadap kajian ilmiah agar setiap temuan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti.

“Kalau ada masukan dan bukti ilmiah yang menunjukkan perlu perbaikan, harus segera direspons. Jangan sampai 2045 justru generasi ini menjadi beban kesehatan,” pungkas Mirza.

MANCANEGARA
WEF Proyeksikan Badai PHK Berlanjut hingga 2030, Penyebabnya Gegara AI 

WEF Proyeksikan Badai PHK Berlanjut hingga 2030, Penyebabnya Gegara AI 

Kamis, 8 Januari 2026 | 13:17

Pergantian tahun belum membawa angin segar bagi pasar tenaga kerja global. Ancaman pemutusan hubungan kerja diperkirakan masih akan membayangi hingga beberapa tahun ke depan, bahkan berpotensi berlangsung sampai 2030.

AYO! TANGERANG CERDAS
Pendaftaran TKA SD dan SMP 2026 Dibuka 19 Januari, Ini Jadwal Lengkapnya

Pendaftaran TKA SD dan SMP 2026 Dibuka 19 Januari, Ini Jadwal Lengkapnya

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:36

Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD dan SMP dijadwalkan mulai dibuka pada Senin 19 Januari 2026.

TANGSEL
Ratusan Personel Polres Tangsel Dites Urine

Ratusan Personel Polres Tangsel Dites Urine

Senin, 23 Februari 2026 | 15:48

Ratusan personel Polres Tangerang Selatan (Tangel) pemeriksaan urine usai apel bersama di Lapangan Apel Polres Tangerang Selatan, Senin 23 Ferbuari 2026.

HIBURAN
Mulai Maret 2026 Bakal Ada Bioskop Mini di Alfamart, Lokasi Pertamanya di Gading Serpong

Mulai Maret 2026 Bakal Ada Bioskop Mini di Alfamart, Lokasi Pertamanya di Gading Serpong

Jumat, 20 Februari 2026 | 11:15

Jejaring retail PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart akan menghadirkan inovasi gerai yang tak hanya sebagai tempat belanja kebutuhan harian, namun juga sarana hiburan bioskop mini bernama “Layar Digi”.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill