Connect With Us

Benang Kusut Minyak Goreng 

Tim TangerangNews.com | Selasa, 7 Juni 2022 | 20:42

Joko Eko Saputro Mahasiswa Universitas Yuppentek Indonesia jurusan Ilmu Pemerintahan. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

Oleh : Joko Eko Saputro Mahasiswa Universitas Yuppentek Indonesia jurusan Ilmu Pemerintahan 

TANGERANGNEWS.com-Munculnya perbedaan pandangan masyarakat atas penyebab naiknya harga minyak goreng kini terjadi. 

Sebagian berpandangan bahwa terdapat mafia minyak goreng. Ada pula yang berpendapat kenaikan harga minyak goreng disebabkan oleh menurunnya produksi sawit dan meningkatnya per¬¬mintaan di pasar Eropa.

 Mafia atau kartel minyak goreng memang bisa saja benar ada, dan hal ini masih dalam penyeidikan oleh pihak yang berwenang. 

Dalam teori ekonomi, kemungkinan adanya rentseeker sudah termasuk dalam kerangka pemikiran ekonomi pada hukum penawaran-permintaan. 

Mungkin pemerintah dapat berusaha untuk mengatasi eksternalitas pencari rente dengan mengurangi asimetri informasi antara penawaran dan permintaan pada minyak goreng.

 Disini, peran Komisi Pengawas Persaingan Usaha menjadi sangat penting. 

Perlu kita ingat kembali, bahwa produk turunan minyak sawit tidak hanya minyak goreng semata. Minyak nabati ini sudah lama digunakan sebagai campuran pada bio solar dan produk dasar pada industri makanan dan kecantikan.

 Kenaikan harga minyak bumi, tentu bisa mengerek pengalihan pemanfaatan minyak sawit menjadi produk yang memiliki tingkat keekonomian yang lebih tinggi seperti biosolar.

 Sebenarnya, akar permasalahan minyak sawit dapat dianalogikan sama dengan permasalahan pada batu bara. 

Harga kedua komoditas ini naik luar biasa secara global, sementara kita juga memiliki kebutuhan di dalam negeri. Hanya saja berbeda pada batu bara, penetapan DMO (_domestic market obligation_) hanya terdampak pada institusi besar terbatas seperti PLN. 

Sehingga lebih mudah untuk dikendalikan oleh pemerintah. Sebaliknya, penggunaan minyak goreng itu dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia sehingga membuat permasalahan menjadi lebih kompleks.

 

Pemerintah sendiri melalui APBN berkeinginan untuk menyerap (absorb) tekanan kenaikan harga minyak goreng ini dengan memberikan subsidi dan mekanisme pengaturan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, tidak mudahnya mekanisme kontrol dapat mengakibatkan kebocoran subsidi melalui orang-orang yang melakukan rent seeker melalui penimbunan minyak goreng. 

Kenaikan harga minyak goreng yang bisa sampai 100 persen tentu mengakibatkan kejutan pada ekonomi rumah tangga, karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok dan memberi dampak ke masyarakat luas. 

Tentu ini digunakan sebagian politisi untuk meraup simpati masyarakat. Sayangnya, simpati ini tidak didasarkan pada pemahaman yang tepat, hanya berdasarkan pandangan populis semata. 

Seakan-akan memihak kepada masyarakat banyak, padahal pada akhirnya bisa jadi bumerang seperti zaman orde baru dahulu. 

Pendapat politisi agar pemerintah mengambil jalan keras untuk memaksa para pengusaha besar di bidang minyak sawit untuk menurunkan harga minyak goreng, merupakan langkah yang jauh dari kaidah ekonomi yang wajar.

 Tindakan represi terhadap sisi supply untuk menurunkan harga sebenarnya tidak jauh dari kebijakan dari diktator pada negara penganut sosialis. 

Adalah baik untuk memahami permasalahan ini secara komprehensif dan mencoba mencari solusi yang tidak melanggar logika dalam ekonomi.

 Dalam hal menyikapi kenaikan harga minyak goreng, pemerintah sudah mengambil kebijakan yang kurang tepat dengan menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada bulan Januari 2022 lalu. 

Niat pemerintah memang mulia, yaitu berusaha mengendalikan harga minyak goreng. Namun, yang terjadi justru minyak goreng tidak dapat ditemui di pasar. Peristiwa ini menunjukkan mekanisme pasar memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan intervensi pemerintah. 

Apalagi tidak ada mekanisme yang memadai dalam pengawasan pelaksanaan ketentuan yang ditetapkan pemerintah tersebut. Penetapan HET biasanya kita temukan pada obat-obatan. 

Kenapa obat-obatan dapat diregulasi dengan HET, sementara belum pernah kita temui pengaturan HET atas sembako seperti minyak goreng?

 Pada intinya yang pertama, elastisitas permintaan kedua barang ini berbeda. Kedua, barang substitusi obat tersedia sangat banyak di pasar. Kedua alasan ini pula yang menyebabkan penetapan HET minyak goreng pada Januari 2022 lalu justru menjadi bumerang bagi pemerintah. 

Minyak goreng menjadi langka dan tidak dapat ditemukan di pasar. Saat penetapan HET dicabut, harga minyak goreng langsung melejit. 

Pandangan ini mengabaikan ketentuan HET yang diatur pemerintah pada minyak goreng curah karena pada kenyataannya minyak goreng curah dengan HET juga tidak dapat ditemui dengan mudah di pasar. 

Memang elastisitas permintaan saat penetapan dan penarikan HET perlu diteliti lebih lanjut. Pembelajaran ekonomi Indonesia dalam sejarah menunjukkan bahwa subsidi bukan merupakan tools jangka panjang yang baik dalam pembangunan. 

Itulah sebabnya, pemerintah lebih memilih untuk memberikan bantuan sosial yang bersifat langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. APBN selalu siap sebagai shock absorber. Hal ini diperlukan untuk menghindari dampak sistemik yang lebih dalam pada masyarakat.

SPORT
Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026 dari 12-28 Juni, Catat Tanggalnya!

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026 dari 12-28 Juni, Catat Tanggalnya!

Jumat, 12 Juni 2026 | 04:49

Piala Dunia 2026 akan segera bergulir mulai 12 Juni 2026. Turnamen yang digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara peserta.

KAB. TANGERANG
Dari Hobi Berujung Rezeki, Ratusan Kicau Mania Padati Talaga Bestari Tangerang

Dari Hobi Berujung Rezeki, Ratusan Kicau Mania Padati Talaga Bestari Tangerang

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:59

Hobi memelihara burung berkicau ternyata tak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka peluang rezeki yang menjanjikan.

OPINI
Merindukan Rumah di Bawah Naungan Syariah

Merindukan Rumah di Bawah Naungan Syariah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:20

Berbagai kasus kejahatan dan kekerasan justru datang dari tempat yang seharusnya memberikan perlindungan. Baik yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri maupun orang lain.

BANDARA
Pulang dari Bangkok Positif Narkoba, BNN Tangkap 10 WNI di Bandara Soetta

Pulang dari Bangkok Positif Narkoba, BNN Tangkap 10 WNI di Bandara Soetta

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:40

Sebanyak 10 orang warga negara Indonesia (WNI) yang baru kembali dari Bangkok, Thailand, langsung ditangkap aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill