Connect With Us

Pemuda Ber-Pilkada

Jurnalis Warga | Senin, 19 Oktober 2015 | 20:44

Berita Pilkada Tangsel 2015 (Bambang Surambang / Tangerangnews)

 

Di negara yang menganut sistem demokrasi, kita sebagai warga sipil mempunyai hak yang sama dalam menentukan pemimpin daerah, terlepas dari apapun jabatan atau gelarnya karena di alam demokrasi hak dan daulat rakyat sebagai esensi dalam berpolitik.

Pascareformasi 1998 semua warga sipil menikmati hajat demokrasi secara langsung.

Namun yang menjadi persoalan berikutnya adalah apakah kita (pemilih) sudah melakukan penilaian untuk para calon pemimpin kita ?

Pertanyaan yang sederhana

Namun sangat menggelitik bagi kita. Pertanyaan ini sebagai bentuk auto kritik kepada kita dalam menetukan pemimpin kedepanya.

Karena cukup ironisme memang ketika seorang professor yang menilai calon pemimpin berdasarkan analisa, track rechord, peran, kemampuan,

Serta kredibiltas seorang calon berbanding lurus dan sama dengan seorang yang memilih pemimpin yang mudah dimobilisasi dengan iming-iming materi keduanya sama berjumlah 1 (satu) suara.

Secara prinsip demokrasi memang dibenarkan atas nama kesetaraan namun secara moral tentu ini sangat melukai kita dalam ber-demokrasi.

Tidak berhenti sampai disitu problem kita berdemokrasi, dan berikutnya yang  menjadi cacatan kita dalam berdemokrasi ialah persoalan sicalon pemimpin tersebut.

Karena di alam demokrasi baik setan(koruptor) mau pun malaikat (orang bersih) mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pemenang.

Tugas kita selaku pemilih adalah bagaimana si setan tersebut jangan sampai menjadi pemenang dalam setiap kontestasi pemilihan pemimpin baik tingkat presiden, gubernur maupuan walikota atau bupati.

Problem diatas tentu hal yang lumrah atau masalah klasik yang ada dilingkungan sekitar kita dalam berdemokrasi.

Namun, apakah semua ini tidak bisa kita rubah Kekhawatiran saya berlanjut, justru ada sebuah pertanyaan dalam hati kecil saya, “Apakah ini merupakan identitas bangsa Indonesia berdemokrasi? atau apakah kita masih premature untuk berdemokrasi?”.

(Re)Solusi

Dapat disimpulkan bahwa penyakit dalam setiap Pemilu atau Pilkada ada dua, pertama ada di kita sebagai pemilih dan kedua pada si calon pemimpin.

Sederhana bagi saya, jawaban yang sangat relevan dan memungkinkan untuk meminimalisir bahkan menghilangkan praktek-praktek haram dalam berdemokrasi ialah kuncinya ada pada pemilih terutama pemilih muda.

Mari kita lihat trailer sejarah bangsa Indonesia dimana disetiap hela nafas pergerakan pasti selalu ada pemuda sebagai penggerak dimana pun dan dalam tragedy apa pun selalu ada peran pemuda.

Tentu kita masih hafal dengan tekad pemuda pada 1928 yang menyatakan bahwa kita adalah satu kesatuan dari tanah air, bangsa, dan bahasa.

Dan tragedi yang  cukup mengguncangkan itu dipelopori oleh Yamin dkk (pemuda pada masa itu).

 Indonesia yang dulunya hanya sebuah bangsa imajinasi kemudian dapat diwujudkan dengan adanya proklamasi pada 1945 yang dipelopori sang bapak bangsa Soekarna-Hatta

Dan dibelakang mereka tak lepas peran sekelompok pemuda. Belum lagi banyak beberapa peristiwa penting di bangsa ini seperti reformasi 1998 dan lain sebagainya.

Konteks hari ini pemuda tidak perlu lagi mengangkat senjata atau aksi/unjuk rasa mengerakan massa kemudian berbenturan dengan aparat keamanan sehingga mengakibatkan kerugian fisik maupun fisikis.

Jadi lah kita sebagai pemuda yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan bangsa sesuai dengan zamannya. Indonesia pada hari dihadapkan dengan pilkada serentak yang dibutuhkan bangsa kita tentunya mengawal Pilkada dengan cara menjadi pemilih yang cerdas dan mengkampanye kan cara memilih yang cerdas kepada umat.

 Hemat saya peran pemuda merupakan kewajiban atau fardu’ain

Untuk mencerdas kan bangsa. Karena pemuda merupakan asset bangsa yang berharga.Karena di tangan para pemuda lah bangsa ini diterus kan dan ditentukan.

Untuk menjadi pemilih yang cerdas marikita gunakan

cara-cara ilmiah dalam menetukan calon pemimpin masa depan. Dimana cara ilmiah itu kita dapatkan dari pengalaman, track record, kredibilitas calon pemimpin bukan pada banyak

tidak nya materi yang ia beri kepada kita. Betapa tidak

terhormatnya kita sebagai pemilih hanya dihargai dengan beberapa materi yang sifatnya sementara dalam waktu yang singkat.

 

Pemilih cerdas haruslah visioner dalam menentukan pemimpin masa depan. Bagi saya pemimpin yang cerdas bukan banyaknya Quote dari para pahlawan yang ia ucapkan dalam berorasi tetapi pemimpin yang cerdas ialah dia mampu mengakomodir semua kepentingan golongan dan mampu menyelesaikan masalah yang rumit dengan cara yang sederhana.

 

Oleh : MK. Ulumudin

Katua Kelompok Studi Trisakti – Banten

 

KAB. TANGERANG
Atasi Efek Kenaikan Pertamax, Pemkab Tangerang Wacanakan Keringanan Kredit hingga Hapus Bunga untuk UMKM

Atasi Efek Kenaikan Pertamax, Pemkab Tangerang Wacanakan Keringanan Kredit hingga Hapus Bunga untuk UMKM

Rabu, 17 Juni 2026 | 22:43

Menyusul kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, kini sedang menyusun langkah-langkah strategis, demi meredam dampak sosial-ekonomi yang mungkin timbul di kalangan masyarakat.

WISATA
BSD Bakal Punya Destinasi Wisata Baru Bertema Peternakan Seluas 3,8 Hektare

BSD Bakal Punya Destinasi Wisata Baru Bertema Peternakan Seluas 3,8 Hektare

Kamis, 11 Juni 2026 | 17:59

Destinasi wisata peternakan pertama dan satu-satunya di kawasan BSD City bernama bernama Dairyland at Hiera BSD segera hadir untuk memenuhi kebutuhan bermain keluarga modern di Jabodetabek.

TEKNO
Pelanggan Telkomsel di Jabotabek-Jabar Bisa Nobar Piala Dunia Cuma Modal Paket Rp25 Ribu

Pelanggan Telkomsel di Jabotabek-Jabar Bisa Nobar Piala Dunia Cuma Modal Paket Rp25 Ribu

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05

Menyambut momentum Piala Dunia 2026, Telkomsel bersama TVRI menghadirkan ‘Bola Gembira MAXStream TV’ sebagai solusi agar masyarakat Indonesia di berbagai wilayah, tetap dapat menikmati setiap pertandingan secara lebih fleksibel.

MANCANEGARA
Geger Virus Baru Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Berujung Fatal

Geger Virus Baru Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Berujung Fatal

Senin, 11 Mei 2026 | 08:11

Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan infeksi virus langka tersebut di kapal pesiar MV Hondius yang dikabarkan menyebabkan korban meninggal dunia.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill