Connect With Us

Dituding terjadi Bully, SD Tunas Mulia Montessori Meradang

Denny Bagus Irawan | Senin, 19 Oktober 2015 | 16:06

Pihak dari SD Tunas Mulia Montessori (Dira Derby / Tangerangnews)

TANGERANG-Hanya karena status di jejaring sosial media Facebook orangtua siswa dilaporkan ke polisi oleh pihak sekolah dasar Tunas Mulia Montessori. #Ini Alasan Orangtua Siswa Korban Bully Menulis di Facebook

 

Penyebabnya, dalam akun status Facebook tersebut Yessy Caroline ibu dari siswa berinisial ASP kelas satu itu menyinggung bahwa telah terjadi kekerasan atau bullying di sekolah itu, yang salah satu korbannya adalah anaknya sendiri. Merasa dirugikan, pihak sekolah itu akhirnya melaporkan orangtua siswa itu pada 9 Oktober 2015 lalu.

 

"Kekerasan itu tidak pernah terjadi di sekolah kami. Kami pastikan tidak ada kekerasan di sekolah kami," ujar Wakil Kepala Sekolah Junita Manurung, Senin (19/10/2015).

 

Peristiwa itu menurut Junita berawal  pada tanggal Jumat 18 September 2015 lalu. Datang orang tua siswa ASP mengaku bahwa  siswa di sekolah itu berinisial M telah menendang anaknya pada saat akan eksul taekwondo. Akibat dari kejadian tersebut ASP menderita luka pada kemaluannya hingga di rawat di rumah sakit.

 

"Dan pada 21 September datang lagi mengultimatum agar siswa M harus dikeluarkan. Kalau tidak akan dilaporkan ke KPAI dan Dikdas," tuturnya.

 

Tetapi ternyata dari hasil pemeriksaan CCTV pada 11 September 2015 lalu, siswa M itu tidak masuk sekolah. Tak hanya itu, buku penghubung yang dimiliki setiap siswa milik M pun membenarkan bahwa memang tidak ada catatan, artinya siswa M ketika waktu tersebut tak hadir.

 

"Kita tanya ke wali kelasnya siswa M tak hadir," terangnya. #Ini Alasan Orangtua Siswa Korban Bully Menulis di Facebook

 

Dia pun membuka bukti rekaman bahwa siswa ASP ketika hari itu terlihat masih sehat. Karenanya, pihak sekolah meyakini tindak kekerasan tak terjadi dibsekolah itu  "Ada 20 CCTV disekolah ini, seluruhnya telah diperiksa dan tak ada tindak kekerasan di sekolah kami," katanya.

 

Kemudian, pihak sekolah mencoba menjenguk siswa ASP. Namun, kedatangan mereka ditolak dengan alasan bahwa permintaan orangtua pasien.

 

"KPAI pun mengirimkan undangan. Lalu kita melakukan mediasi, tetapi orangtua ASP tak hadir," terangnya.

 

Orangtua ASP hanya mengirimkan kuasa hukumnya. Tetapi, pihak kuasa hukum keluarga ASP menyatakan saat itu masih mencari bukti. Sampai saat ini, kata dia, pihak sekolah belum dapat berkomunikasi dengan orangtua siswa ASP. "Waduh kuasa hukum belum menguasai persoalan berarti," tuturnya.

 

 

Namun, saat disinggung soal adanya peristiwa sebelumnya pada saat pelajaran agama, Junita mengakui pernah ada. Tetapi, itu diklaimnya hanya sekali. 

 


"Itu hanya terjadi sekali. Disitu pun hanya ada enam siswa saja saat itu dalam ruangan. Jadi tidak mungkin tak terawasi guru. Mereka  berdua juga tak sekelas, hanya saat jam pelajaran agama saja," katanya.

 

Setelah itu orangtua ASP pun menulis dalam akun Facebooknya. Sebab,  melalui media sosial itu orangtua siswa   telah mempublish kejelekan sekolah."Ada postingan menjelelam sekolah. Disitu ada yang komen 5.000 lebih orang," tutur pengacara sekolah itu Bastian Manalu.

 

Sedangkan dari pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Usuf Subandi mengaku, pihaknya kaget sekali mendengar ada peristiwa seperti itum tetapi diklaimnya laporan tentang adanya kekerasan itu kurang sah.

 

"Pertama kurang sah,  karena laporannya jauh terlambat dari kejadiannya. Jadi saya pastikan  tidak ada yang namanya bulky. Apalagi antar anak atau guru dengan anak," bantahnya.

MANCANEGARA
Geger Virus Baru Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Berujung Fatal

Geger Virus Baru Hantavirus, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Berujung Fatal

Senin, 11 Mei 2026 | 08:11

Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan infeksi virus langka tersebut di kapal pesiar MV Hondius yang dikabarkan menyebabkan korban meninggal dunia.

OPINI
Merindukan Rumah di Bawah Naungan Syariah

Merindukan Rumah di Bawah Naungan Syariah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:20

Berbagai kasus kejahatan dan kekerasan justru datang dari tempat yang seharusnya memberikan perlindungan. Baik yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri maupun orang lain.

KAB. TANGERANG
Dari Hobi Berujung Rezeki, Ratusan Kicau Mania Padati Talaga Bestari Tangerang

Dari Hobi Berujung Rezeki, Ratusan Kicau Mania Padati Talaga Bestari Tangerang

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:59

Hobi memelihara burung berkicau ternyata tak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka peluang rezeki yang menjanjikan.

TOKOH
Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Masinis Penyintas Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Tutup Usia di Umur 87 Tahun

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:53

Slamet Suradio, masinis yang selamat dari peristiwa tabrakan kereta api dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia pada Rabu, 3 Juni 2026, dini hari.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill