Hari Batik Nasional, VIVERE Hotel Gading Serpong Ajak Tamu Belajar Membatik
Jumat, 2 Oktober 2026 | 20:53
VIVERE Hotel, ARTOTEL Curated Gading Serpong memperingati Hari Batik Nasional dengan menggelar “Rona Nusantara”, Jumat 2 Oktober 2026.
TANGERANGNEWS.com-Gedung Kramat 106 di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta, menjadi saksi bisu lahirnya Sumpah Pemuda. Gedung yang pernah dihuni tokoh-tokoh pergerakan nasional ini menjadi sejarah perjalanan para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Melansir dari kompas.com, para tokoh pergerakan nasional yang pernah menghuni gedung itu rata-rata pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau sekolah kedokteran STOVIA dan pelajar dari RS (Rechtsschool).
Sebut saja seperti Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, dan Assaat dt Moeda, Soerjadi, Assaat, Abu Hanifah, Abas.
Ada juga Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, serta penghuni lainnya, ada Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.
Mereka merupakan tokoh yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.
Lokasi Kongres Pemuda
Lantaran luasnya 460 meter persegi, akhirnya indekos ini dijadikan sebagai lokasi Kongres Pemuda kedua tahun 1928 yang dihadiri hingga lebih dari 700 pemuda.
Sie Kong Lian sebagai pemilik kos-kosan itu memberikan kebebasan bagi para pelajar untuk menggelar diskusi termasuk merumuskan Sumpah Pemuda.
Gedung kos yang diberi nama Commensalen Huis oleh para penghuninya itu populer sebagai tempat melakukan kegiatan pergerakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda.
Tokoh penting seperti Soekarno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung pun sering hadir di Gedung Kramat 106 untuk membicarakan format perjuangan.

Beberapa kongres lain pernah diadakan di gedung kos itu, seperti Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, PPPI. Kemudian, gedung ini pernah menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI.
Lalu, sekitar 1927 gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan) lantaran seringnya digunakan oleh berbagai organisasi.
Gedung ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Soegondo Djojopuspito, ketua PPPI, terpilih sebagai ketua kongres. Pada Kongres Pemuda Pertama telah berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia.
Menjadi Museum
Setelah digelarnya Sumpah Pemuda, para penghuninya meninggalkan gedung Indonesische Clubgebouw karena telah menyelesaikan pendidikannya.
Sepeninggalan para penghuninya, gedung kos itu sempat beralih fungsi menjadi rumah tinggal pada 1934-1937, kemudian menjadi toko bunga pada 1937-1948, lalu menjadi Hotel Hersia pada tahun 1948 – 1951.
Beralih fungsi kembali pada 1951-1970 menjadi instansi pemerintah, yakni Kantor Inspektorat Bea dan cukai.
Gedung Kramat 106 itu kemudian dipugar pada 3 April 1973 dan selesai pada 20 Mei 1973, berubah fungsi menjadi museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.
Peralihan fungsi menjadi museum tersebut lantaran perannya menjadi saksi sejarah perjalanan panjang perjuangan kemerdekaan para pemuda pemudi Indonesia.
VIVERE Hotel, ARTOTEL Curated Gading Serpong memperingati Hari Batik Nasional dengan menggelar “Rona Nusantara”, Jumat 2 Oktober 2026.
TODAY TAGKawasan perkotaan memiliki permintaan kuliner yang tinggi karena mobilitas dan gaya hidup penghuninya yang sibuk. Misalnya, area padat seperti Tangerang membuka peluang bagi beragam konsep makanan.
Provinsi Banten genap berusia 26 tahun pada 4 Oktober 2026. Seiring perkembangan wilayah dan tingginya aktivitas masyarakat, kebutuhan terhadap layanan kesehatan menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kesejahteraan warga.
Polresta Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menangkap dua anggota sindikat pengiriman Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) non-prosedural dengan modus perjalanan wisata ke Jepang.
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews