Connect With Us

Berbelit-belit, 2 Saksi Terdakwa Kasus Pencaplokan Aset Pemkab Ditegur Hakim

Achmad Irfan Fauzi | Senin, 18 Maret 2019 | 18:00

Suasana persidangan lanjutan kasus dugaan pencaplokan aset Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang di Desa Laksana, Sungai Turi, Pakuhaji, dengan terdakwa Tjen Jung Sen, 66, yang digelar di Ruang Sidang 2 Pengadilan Negeri (PN) Tangerang. (@TangerangNews / Achmad Irfan Fauzi )

TANGERANGNEWS.com-Sidang lanjutan kasus dugaan pencaplokan aset Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang di Desa Laksana, Sungai Turi, Pakuhaji, dengan terdakwa Tjen Jung Sen, 66, kembali digelar, Senin (18/3/2019). 

Persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi meringankan terhadap Direktur PT Mitra Propindo Lestari (MPL) ini berlangsung di Ruang Sidang 2 Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

Dalam persidangan, kuasa hukum terdakwa menghadirkan dua saksi. Keduanya adalah Maju, 60, warga Desa Laksana, dan Asiu, 50, Humas Perkumpulan Pengusaha Industri 19 Pakuhaji.

Disepanjang persidangan, majelis hakim yang diketuai Gunawan ini kerap menegur kedua saksi tersebut karena keterangan yang diberikan berbelit-belit.

Berawal dari saksi Maju, yang tidak mengetahui alamat rumahnya secara rinci meskipun ia mengaku tinggal di Desa Laksana sejak anak-anak.

"Lupa saya, nomor rumah dan nomor RT saya lupa, nanti ada di KTP. Maklum saya orang tidak berpendidikan," kata Maju.

Mendengar jawaban tersebut, Gunawan pun langsung menggelengkan kepalanya. Ia memberikan teguran keras. "Saudara ini bagaimana, kok nomor RT saja tidak tahu. Katanya tinggal di sana dari sejak lahir," ucapnya.

Maju pun kemudian tampak gugup ketika dicecar pertanyaan oleh pengacara, jaksa, maupun majelis hakim. Kegugupan itu membuat Maju tidak tertib dalam persidangan. Hakim pun kembali menegurnya. 

"Dicerna dulu pertanyaannya jangan celometan terus, ini pengadilan. Saya bisa saja mengeluarkan saudara dari ruang sidang, mau?" tegur Gunawan.

Sementara itu, saksi selanjutnya yakni Asiu juga mengalami hal serupa dengan Maju. Sebab, hakim menilai ia berperan layaknya saksi ahli bukan seperti saksi yang mengungkap fakta-fakta.

Asiu menyampaikan pendapatnya saat ia ditanya soal perusahaan yang ada di area industri parsial 19.

Dihadapan majelis hakim, ia mengatakan sebagai pengganti Izin Mendirikan Bangunan (IMB) harus mengurus persyaratan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL/UPL).

"Jadi ini pengganti AMDAL," ucapnya.

Ungkapannya pun langsung ditegur hakim bahwa itu tidak sejalan dengan perannya dalam persidangan. "Saudara bukan ahli, audara hanya saksi. Jadi hanya bilang fakta saja, bukan pendapat," jelas Gunawan.

Setelah mendengarkan keterangan para saksi, Gunawan memutuskan untuk menunda persidangan.

"Sidang dilanjutkan minggu depan dengan menghadirkan satu orang saksi ahli dari terdakwa pada Senin 25 Maret 2019," tukasnya.

Diketahui sebelumnya, Tjen Jung Sen didakwa melanggar Pasal 69 dan Pasal 71 UU No 26/2007 tentang Tata Ruang dengan ancaman hukuman penjara 3 tahun dan denda Rp500 juta.

Kasus bergulir setelah Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang memperingati PT MPL untuk menghentikan pembangunan jalan atau akses menuju Kawasan industri dan Parsial 19.

Pasalnya, kawasan industri yang berada di sekitar Sungai Turi tersebut merupakan daerah resapan air dan kawasan hijau milik Pemkab Tangerang yang dilarang membeton maupun mendirikan bangunan di atasnya.

Karena peringatan tersebut tidak diindahkan oleh PT MPL, pihak DBMSDA melaporkan perusahaan itu ke Polda Metro Jaya. Tjen Jung Sen pun ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya disidangkan di PN Tangerang.(MRI/RGI)

TOKOH
Ayahnya Meninggal Dunia Sehari Sebelum Dikukuhkan, Rahmat Tetap Pimpin Paskibraka HUT ke-80 RI di Tangsel

Ayahnya Meninggal Dunia Sehari Sebelum Dikukuhkan, Rahmat Tetap Pimpin Paskibraka HUT ke-80 RI di Tangsel

Senin, 18 Agustus 2025 | 18:07

Rahmat Putra Maulana, siswa SMK Islamiyah yang dipercaya sebagai Komandan Pasukan 17, menjalankan tugas mulia itu ketika tengah berduka atas ayahnya yang meninggal dunia, sehari sebelum ia dikukuhkan.

PROPERTI
Ruko Calico Grande Sold Out, Paramount Petals Jadi Magnet Bisnis Baru di Tangerang

Ruko Calico Grande Sold Out, Paramount Petals Jadi Magnet Bisnis Baru di Tangerang

Jumat, 29 Agustus 2025 | 10:37

Antusiasme masyarakat terhadap kawasan komersial di Paramount Petals terus meningkat. Setelah kesuksesan Calico Square yang sudah sold out dan beroperasi penuh, kini giliran ruko komersial kedua Calico Grande juga ludes terjual (sold out)

BISNIS
Catat Transaksi Rp25 Triliun, Indonesia Shopping Festival 2025 Didorong Jadi Tempat Promosi UMKM Banten

Catat Transaksi Rp25 Triliun, Indonesia Shopping Festival 2025 Didorong Jadi Tempat Promosi UMKM Banten

Kamis, 28 Agustus 2025 | 23:03

Indonesia Shopping Festival (ISF) 2025 yang digelar sepanjang 14–24 Agustus 2025 mencatat transaksi lebih dari Rp25 triliun.

MANCANEGARA
 Banjir Tangerang Masuk Berita Malaysia, Netizen: Go Internasional

Banjir Tangerang Masuk Berita Malaysia, Netizen: Go Internasional

Senin, 7 Juli 2025 | 22:19

Hujan yang mengguyur wilayah Kota Tangerang dan sekitarnya menyebabkan banjir di sejumlah titik, sejak Minggu 6 Juni 2025, malam. Bahkan peristiwa ini menjadi pemberitaan di media Malaysia.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill