Mengenal Teknologi Photobiomodulation (PBM) untuk Perawatan Kulit Tingkat Sel
Jumat, 4 September 2026 | 22:14
Industri estetika medis dan dermatologi global kini tengah mengalami pergeseran paradigma (shifting).
TANGERANGNEWS.com-Aroma menyengat kuat berasal dari tumpukan sampah di Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang membuat para pedagang geram, Jumat 09 Agustus 2024.
Sebab, sampah tersebut menumpuk karena sudah sepekan tidak diangkut.
Berdasarkan video yang diterima Tangerangnews, menampilkan para pedagang melakukan aksi membuang sayuran ke jalan di area pasar. Video tersebut terbesar dan viral di media sosial.
Jamal salah satu pedagang mengatakan aksi itu terjadi pada Rabu 07 Agustus 2024. Para pedagang melakukan itu sebagai bentuk protes kepada pengelola.
Sampah yang sudah sepekan tak kunjung diangkut oleh pihak pengelola pasar menimbulkan bau tak sedap hingga membuat para pembeli dan pedagang merasa tidak nyaman.
"Iya bener, kami membuat aksi protes sudah sepekan sampah tidak diangkut, ditambah bau yang menyengat, banyak pembeli protes dan tidak jadi beli," ujar Jamal.
Ia pun meminta agar pengelola pasar induk tanah tinggi betul-betul serius melakukan pengelolaan sampah, sehingga tidak meresahkan pedagang, pembeli juga warga sekitar lingkungan pasar induk tanah tinggi.
“Kami hanya minta jangan sampai merugikan para pedagang sekitar. Kalau sudah meresahkan salah satunya bau itu," tegasnya.
Jamal, menambahkan semenjak video tersebut viral, pihak pengelola Pasar Induk Tanah Tinggi sudah mulai mengangkut sampah yang menumpuk di lokasi.
“Ini memang sudah beberapa hari diusahakan tapi saya harap secepatnya. Kita bukannya membiarkan kadang-kadang ada saja masalah seperti ini. Alhamdulillah sampah sudah mulai diangkut sama pihak pengelola," imbuhnya.
TODAY TAGIndustri estetika medis dan dermatologi global kini tengah mengalami pergeseran paradigma (shifting).
ARYADUTA Country Club akan menggelar Tennis Coaching Clinic pada 26–27 September 2026.
Kebakaran hutan dan lahan merupakan tantangan tata kelola yang berulang setiap siklus musim kemarau di Indonesia. Keterlambatan respons mesin birokrasi pemerintah daerah maupun pusat tidak sekadar berakar pada persoalan anomali cuaca.
RECOMENDED
Tangerang News
@tangerangnews