Connect With Us

Angka Perokok Pria Indonesia Tertinggi di Dunia Tembus 70,5%, Benarkah?

Fahrul Dwi Putra | Minggu, 21 Mei 2023 | 11:15

Ilustrasi rokok batangan. (@TangerangNews / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com- Jumlah perokok kategori jenis kelamin laki-laki menempati posisi tertinggi di dunia hingga mencapai angka 70,5 persen.

Data tersebut diunggah oleh akun Twitter Wolrd of Statistics @stats_feed dari total 57 negara di dunia.

"Pangsa laki-laki yang merokok," tulis akun Wolrd of Statistics dikutip pada Minggu, 21 Mei 2023.

Di urutan kedua dengan perbedaan tipis ditempati oleh Myanmar 70,2 persen dan urutan ketiga diduduki oleh Bangladesh sebesar 60,6 persen.

Sedangkan, Swedia berada di urutan terbawah atau ke-57 dengan jumlah perokok laki-laki sebesar 6 persen.

Melansir dari Republika.co.id, berdasarkan hasil survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 oleh Kementerian Kesehatan ditemukan bahwa perokok Indonesia berada pada urutan ketiga terbanyak di dunia dan urutan pertama untuk kategori laki-laki.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi memaparkan, sebanyak 70,2 juta orang orang dewasa atau 34,5 persen dari total jumlah penduduk merupakan perokok, sementara perokok pria mencapai sebesar 65,5 persen. Artinya, jumlah perokok pria di Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

"Ternyata perokok Indonesia terbesar ketiga di dunia setelah India dan Cina. Kemudian perokok laki-laki Indonesia adalah yang terbanyak di dunia," katanya.

NASIONAL
Jangan Salah, Ini Daftar Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan per Juli 2026

Jangan Salah, Ini Daftar Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan per Juli 2026

Senin, 6 Juli 2026 | 12:59

Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) perlu mengetahui bahwa tidak semua tindakan operasi dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

OPINI
Melawan Patrimonialisme dalam Gerakan Muhammadiyah, Sebuah Otokritik

Melawan Patrimonialisme dalam Gerakan Muhammadiyah, Sebuah Otokritik

Sabtu, 4 Juli 2026 | 22:29

Dalam khazanah sosiologi organisasi, Muhammadiyah sedianya merupakan antitesis bagi tradisi patrimonial. Persyarikatan ini berdiri di atas fondasi otoritas legal-rasional, di mana legitimasi kepemimpinan berakar pada kompetensi dan kaderisasi

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill