Connect With Us

Ilmuwan Temukan Cara Berkomunikasi Buaya

Fahrul Dwi Putra | Selasa, 29 Agustus 2023 | 09:33

Seekor buaya muncul di sungai dekat Perumahan Bumi Ciruas Permai (BCP) 2, Ciruas, Serang, Provinsi Banten, Rabu 19 Januari 2022. (@TangerangNews / Rangga A Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com- Buaya merupakan hewan predator dengan julukan 'pembunuh diam' lantaran kemampuannya untuk melumpuhkan mangsanya secara tiba-tiba.

Ilmuwan menilai buaya merupakan subyek penelitian menarik karena reptil satu ini salah satu yang berhasil bertahan sejak zaman dinosaurus.

Lalu, bagaimana cara buaya berkomunikasi? Hal inilah yang menjadi salah satu fokus penelitan dari para ilmuan. Sebab, ditemukan fakta bahwa buaya justru merupakan reptil yang paling banyaka menghasilkan suara.

Pakar Genetika Ekologi di IPB Profesor Ronny Rachman Noor mengungkapkan saat ini sejumlah peneliti di Australia tengah mendalami cara berkomunikasi buaya dengan memasang berbagai alat perekam suara untuk buaya air asin.

"Para peneliti berhasil mengungkap misteri bahwa selain unsur kejutan dalam berburu dan menyerang mangsa, ternyata buaya juga berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa unik mereka sendiri," jelas Prof Ronny dilansir dari situ web resmi IPB University, Selasa, 29 Agustus 2023.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah buaya jantan dan betina memiliki suara yang berbeda? Apakah perbedaan ukuran menentukan perbedaan suara? Dan yang paling penting, apakah ada makna khusus dari berbagai jenis suara yang digunakan untuk berkomunikasi?.

"Peneliti ini berhasil mendekripsi makna dari setiap jenis suara yang dihasilkan oleh buaya seperti geraman, benturan, pukulan kepala, dan juga gerakan tubuh lainnya yang biasa ditunjukkan oleh buaya air asin (Crocodylus porosus)," tambahnya.

Lanjutnya, berdasarkan ilmu ekologi akustik, ditemukan bahwa buaya memiliki kemampuan untuk menggerakkan setiap sisik di punggung mereka (osteodermata). 

Hasil dari gerakan fisik sisik-sisik ini merupakan suara berfrekuensi rendah yang dapat menyebar sangat jauh di dalam air. 

Artinya, buaya dengan sengaja menghasilkan jenis suara tertentu untuk tujuan berkomunikasi. Dan yang paling menakjubkan, suara-suara ini diakui dan dimengerti oleh buaya lain.

"Dengan berbagai jenis suara ini, buaya dapat memberi tahu buaya lain tentang keberadaan mereka atau status reproduksi mereka untuk mencari pasangan untuk berkembang biak. Suara-suara ini juga memberi tahu buaya lain tentang wilayah mereka," kata Profesor Ronny.

Prof Ronny menuturkan, jenis suara tersebut bernama Geysering narial, yakni suara yang berasal dari hidung saat buaya berada di dalam air, menyemprotkan air ke udara. Umumnya, jenis suara ini terjadi saat buaya sedang kawin.

Menurut Profesor Ronny, penemuan berbagai jenis suara buaya serta makna dari setiap suara membuka horison baru. Ini dapat digunakan untuk menentukan ukuran buaya, perilaku, status kesehatan, dan lainnya.

"Semakin menarik ketika kita mencoba menjawab pertanyaan mengapa buaya yang hidup saat ini sering membuat suara dengan menggunakan media air daripada langsung dari organ vokal mereka? Penggunaan air dan penggabungannya dengan suara dan gerakan adalah contoh adaptasi luar biasa buaya, yang memungkinkannya bertahan hidup dan berkembang biak," terangnya.

Seperti diketahui, dalam pohon evolusi yang bercabang sekitar 240 juta tahun lalu, buaya saat ini merupakan turunan dari nenek moyangnya yaitu Archosaurus.

Para peneliti sepakat bahwa burung berevolusi sekitar 66-69 juta tahun yang lalu untuk menghasilkan syrinx yang berfungsi untuk menghasilkan suara. Syrinx memungkinkan burung menghasilkan suara yang lebih kompleks yang digunakan sebagai alat komunikasi.

Penemuan ini, kata Prof Ronny, dapat membuka pintu untuk mengungkap misteri dunia buaya lebih dalam untuk memahami dan menjelaskan mengapa buaya yang telah hidup sejak zaman dinosaurus masih dapat bertahan hidup hingga saat ini.

"Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan ekstrem memang salah satu kunci dalam menjaga keberadaan buaya di bumi, tetapi mungkin ada faktor lain seperti keterampilan berkomunikasi yang juga memainkan peran yang sangat besar," jelas Profesor Ronny.

Keberhasilan para peneliti Australia dalam mengungkap misteri bahasa buaya akan sangat berguna dan menentukan keberhasilan program konservasi baik di penangkaran maupun di alam liar.

BISNIS
Warga Banten Makin Jarang Pakai Uang Tunai, Transaksi QRIS Tembus Rp34 Triliun

Warga Banten Makin Jarang Pakai Uang Tunai, Transaksi QRIS Tembus Rp34 Triliun

Kamis, 14 Mei 2026 | 14:20

Penggunaan pembayaran digital di Provinsi Banten terus melonjak sepanjang awal 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten mencatat nilai transaksi menggunakan QRIS mencapai lebih dari Rp34 triliun.

AYO! TANGERANG CERDAS
Siswa Miskin 90 Persen Berpeluang Tembus Masuk Sekolah Favorit Pada SPMB 2026

Siswa Miskin 90 Persen Berpeluang Tembus Masuk Sekolah Favorit Pada SPMB 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 08:18

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengklaim siswa dari keluarga kurang mampu memiliki peluang lebih besar untuk masuk sekolah yang diinginkan melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.

OPINI
May Day dan Gugatan Marx di Balik Penjara Digital

May Day dan Gugatan Marx di Balik Penjara Digital

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:57

Sejarah dari seluruh masyarakat yang ada hingga sekarang adalah sejarah perjuangan kelas." Kalimat pembuka Karl Marx dalam Manifesto Komunis (1848) ini sering kali dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang tak lagi relevan.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill