Connect With Us

Buka Cuma Faktor Usia, Stamina Menurun Bisa Jadi Tanda Diabetes

Rangga Agung Zuliansyah | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:00

dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM saat sedang melakukan pemaparan pada Primaya Metabolic Endocrine 2026. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Masyarakat kerap menganggap penurunan stamina, mudah lelah, perubahan fungsi seksual, hingga kadar gula darah meningkat sebagai bagian dari proses penuaan atau konsekuensi gaya hidup.

Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi tanda bahwa terjadi perubahan pada sistem hormon maupun metabolisme tubuh yang perlu diperhatikan.

Ini menjadi salah satu pembahasan pada Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 yang mengangkat tema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” pada bulan Juli 2026 lalu.

Acara ini menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam seperti dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp. PD-KEMD, FINASIM.

Pada pria, misalnya, penurunan kadar testosteron memang terjadi seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan testosteron dan free testosterone semakin nyata setelah usia 50 tahun.

Namun, perubahan yang menetap dan disertai keluhan tidak selalu perlu dianggap sebagai bagian normal dari penuaan

Salah satunya adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau kekurangan testosteron pada pria. Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1% populasi pria secara umum, dengan prevalensi meningkat dari 0,1% pada pria usia 40–49 tahun menjadi 5,1% pada usia 70–79 tahun.

Prevalensinya juga dapat meningkat pada pria dengan obesitas atau metabolic syndrome.

dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM yang berpraktek di UKRIDA Primaya Hospital mengatakan pria perlu lebih peka terhadap perubahan tubuh yang mulai mempengaruhi aktivitas maupun kualitas hidup.

Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh.

"Kekurangan testosteron bukan sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan. Karena itu, penting untuk melakukan evaluasi medis secara tepat dan tidak sekadar menganggapnya sebagai proses penuaan,” ujarnya dikutip Sabtu 15 Agustus 2026.

Hal serupa juga terjadi pada diabetes. Gangguan metabolisme dapat berkembang tanpa gejala yang jelas sehingga seseorang baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi.

Materi Primaya Endocrine 2026 mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme, sehingga risiko komplikasi dapat berkembang sebelum pengobatan dimulai.

Di Indonesia, merujuk IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia berada pada peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes pada usia 20–79 tahun dan peringkat ketiga untuk jumlah kasus yang belum terdiagnosis.

dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, menjelaskan bahwa diabetes tidak cukup dipandang sebagai persoalan kadar gula darah.

Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh.

"Kita perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” jelasnya. 

Diabetes tipe 2 melibatkan berbagai mekanisme yang berkaitan dengan pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun.

Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak cukup dinilai dari satu angka laboratorium, tetapi juga dari kemampuan mencegah komplikasi dan mempertahankan fungsi organ.

Pendekatan pengelolaan diabetes pun kini bergerak dari reaktif menjadi proaktif, dengan fokus yang lebih komprehensif, protektif terhadap organ, berbasis teknologi, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pertimbangan dapat mencakup kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, hingga kebutuhan dan preferensi pasien.

"Karena itu, tujuan pengelolaan kesehatan bukan sekadar memperbaiki angka hormon, gula darah, atau berat badan, tetapi menjaga fungsi organ, mencegah komplikasi, mempertahankan produktivitas, dan memastikan kualitas hidup dalam jangka panjang," dr. Khomimah.

KOTA TANGERANG
Netizen Keluhkan Parkir Liar Getok Harga di Kawasan Kuliner Laksa Tangerang

Netizen Keluhkan Parkir Liar Getok Harga di Kawasan Kuliner Laksa Tangerang

Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:45

Kawasan Kuliner Laksa di Jalan Moh. Yamin, Kota Tangerang mendadak jadi sorotan publik setelah keluhan soal parkir liar viral di media sosial.

OPINI
Menakar Tuan Baru Mesin Birokrasi

Menakar Tuan Baru Mesin Birokrasi

Jumat, 18 September 2026 | 20:40

Pergantian pimpinan di kementerian keuangan selalu menjadi diskursus publik yang sangat didominasi oleh analisis terkait stabilitas ekonomi makro dan fluktuasi pasar modal.

TOKOH
KH Ahmad Fudholi Meninggal Dunia Usai Jalani Perawatan Akibat Kecelakaan

KH Ahmad Fudholi Meninggal Dunia Usai Jalani Perawatan Akibat Kecelakaan

Senin, 7 September 2026 | 15:29

‎Ulama kondang asal Kabupaten Tangerang KH. Ahmad Fudholi meninggal dunia setelah menjalani perawatan pascakecelakaan di Tol Tangerang-Merak.

TEKNO
Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran Berbasis AI Lewat Program Terpujilah GURU

Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran Berbasis AI Lewat Program Terpujilah GURU

Jumat, 25 September 2026 | 21:19

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mendorong pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) oleh tenaga pendidik dalam metode pembelajaran di ruang kelas lewat program Terpujilah GURU 2026

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill