Connect With Us

Cakram Gelas Kecil Ini Bisa Menyimpan Data Hingga 360 Terabita dan Tahan Hingga 13,8 Miliar Tahun

Mohamad Romli | Rabu, 26 Juni 2019 | 21:48

Ilustrasi Cakram Gelas. (Istimewa / Istimewa)

TANGERANGNEWS.com-Selama ini, media apa pun yang kita gunakan untuk menyimpan pengetahuan dan ingatan akan rusak. Buku melapuk, foto memudar, bahkan cakram keras (harddisk) pun pada akhirnya akan gagal berfungsi. Namun, semua itu akan berubah dengan dikembangkannya media penyimpan berupa cakram gelas.

Para ilmuwan dari University of Southampton di Inggris telah menciptakan metode baru pengkodean informasi dalam struktur nano ke dalam cakram gelas yang bisa menyimpan jauh lebih banyak informasi. Sebagai  perbandingan, sebuah cakram Blue-ray dapat menyimpan data hingga 128GB, sedangkan cakram gelas dengan ukuran yang sama dapat menyimpan hampir 3.000 kali lipat: 360 terabyte dengan perkiraan masa pakai hingga 13,8 miliar tahun atau tiga kali usia Bumi.

Selain itu, cakram gelas ini kebal panas hingga mampu bekerja stabil pada suhu 1.000 derajat Celcius. Demikian diakui Serendipity Photonics Group, lembaga di bawah University of Southampton  yang mengembangkan teknologi ini, dalam laman webnya. Lembaga ini juga menggelari cakram gelas tersebut sebagai Superman memory crystal (merujuk kepada kristal dalam fiksi Superman) karena dengan cakram ini, seluruh pengetahuan manusia bisa disimpan hingga milyaran tahun.

BACA JUGA:

Teknik yang digunakan untuk menyimpan informasi ke dalam cakram gelas itu disebut penulisan lima dimensi (5D). Teknik ini pertama kali diusulkan pada tahun 2013 dalam makalah sebuah tim dari University of Southampton yang dipimpin Profesor Peter Kazansky. Sejak itu, para ilmuwan di belakangnya mengatakan mereka telah lebih menyempurnakan teknik tersebut dan sekarang mencari cara untuk menerapkan teknologi itu secara mudah dan massal agar bisa dikomersialkan. 

Untuk menunjukkan keunggulan teknologi ini, tim dari University of Southampton telah membuat salinan King James Bible, Opticks karya Isaac Newton (teks dasar studi cahaya dan lensa), dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa ke dalam cakram gelas berukuran satu inchi. Cakram itu kemudian dipresentasikan kepada PBB awal bulan Februari 2016.

"Kami dapat menyandikan [informasi] apa pun. Tidak ada batas. Cukup beri kami file dan kami dapat mencetaknya [ke dalam cakram]," kata Aabid Patel, seorang mahasiswa pascasarjana yang terlibat dalam proyek tersebut, sebagaimana dikutip di laman web The Verge.

Cakram gelas ini berpotensi tahan lama karena kaca adalah bahan yang membutuhkan banyak panas untuk melelehkan atau membengkokkannya. Selain itu, gelas juga stabil secara kimia. Hal itu bisa dilihat pada tabung kimia yang digunakan dalam eksperimen sains untuk mengandung bahan reaktif tanpa terjadi perubahan.

Penyimpanan data 5D jelas memiliki potensi sebagai media penyimpanan data besar yang dibutuhkan, misalnya, oleh perpustakaan, museum, dan galeri.  Jelas, perusahaan-perusahaan yang lapar data seperti Google, Amazon, dan Facebook pun tentu akan segera melirik teknologi ini.

Proyek ini tampaknya sangat ambisius sekaligus menjanjikan. Namun, teknologi ini bukan satu-satunya. Ada teknologi saingan yang juga sedang dikembangkan. Perusahaan Jepang, Hitachi, juga sudah mengembangkan teknik penyimpanan data berbasis kaca sejak tahun 2014. 

Persaingan adalah hal yang lumrah dan para ilmuwan tetap dengan motivasi awalnya untuk kemaslahatan seluruh umat manusia. "Apa yang akan terjadi ribuan tahun ke depan, tidak ada yang bisa memprediksinya," kata Patel. 

"Tapi, yang bisa kami jamin adalah bahwa kami memiliki kemampuan untuk menyimpan kebudayaan, bahasa, dan esensi ras manusia dalam sepotong kaca sederhana untuk peradaban manusia di masa depan—atau untuk siapa pun yang ada di alam semesta." tambahnya.(ATM/MRI/RGI)

TEKNO
Hadapi Tantangan Industri Ritel, Aprindo Gandeng UBM Serpong Kembangkan Data Sains dan AI

Hadapi Tantangan Industri Ritel, Aprindo Gandeng UBM Serpong Kembangkan Data Sains dan AI

Rabu, 9 September 2026 | 19:46

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berkolaborasi dengan Universitas Bunda Mulia (UBM) dalam pengembangan inovasi serta pemanfaatan data science dan artificial intelligence (AI) di sektor ritel.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

NASIONAL
Jalani Terapi Y-90 di RS Mandaya Royal Puri, Tumor Kanker Hati Pasien Mengecil 

Jalani Terapi Y-90 di RS Mandaya Royal Puri, Tumor Kanker Hati Pasien Mengecil 

Jumat, 18 September 2026 | 18:40

RS Mandaya Royal Puri menjadi salah satu fasilitas kesehatan di Indonesia yang menerapkan Selective Internal Radiation Therapy (SIRT) Y-90 untuk penanganan kanker hati.

KOTA TANGERANG
Vaksin Meningitis Jadi Syarat Umrah, Kapan Waktu yang Tepat?

Vaksin Meningitis Jadi Syarat Umrah, Kapan Waktu yang Tepat?

Sabtu, 19 September 2026 | 16:10

Persiapan ibadah Umrah dan Haji bukan hanya soal dokumen perjalanan dan perlengkapan ibadah. Kondisi kesehatan calon jemaah juga perlu dipersiapkan sejak jauh hari, termasuk vaksinasi meningitis

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill