Connect With Us

Yuk Ajak Anak Main ke Kampung Dolan Khatulistiwa di Rawa Buntu Tangsel, Ada 20 Permainan Tradisional

Rangga Agung Zuliansyah | Selasa, 11 Juni 2024 | 18:47

Anak-anak bermain permainan tradisional di Kampung Dolanan Khatulistiwa (KADO KITA), Dadap, Rawa Buntu, Kota Tangsel, Selasa 11 Juni 2024. (@TangerangNews / Rangga Agung Zuliansyah)

TANGERANGNEWS.com-Kampung Dolanan Khatulistiwa (KADO KITA) hadir di Kampung Dadap, Rawa Buntu, Tangerang Selatan (Tangsel).

Kampung ini dibentuk pengembang properti Sinar Mas Land bersama warga pegiat komunitas Mpok Wati (Kelompok Wanita Tangguh dan Berseri), untuk melawan ketergantungan anak pada ponsel sekaligus melestarikan budaya Indonesia melalui permainan tradisional.

Dibuka setiap hari untuk umum pada pukul 08.00-16.00 WIB, tak kurang dari 20 jenis permainan tradisional tersedia di kampung ini.

Di antaranya adalah egrang, gasing, holahop, panahan, ular tangga jumbo, bakiak panjang, congklak, lompat bambu, dan beragam jenis mainan lain yang dapat memperkuat karakter positif anak. 

Wakil Wali Kota Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan sempat berkunjung ke KADO KITA bersama jajarannya beberapa waktu lalu. Ia mengapresiasi Sinar Mas Land yang telah menghadirkan KADO KITA di Tangsel.

"Kita tahu bahwa permainan tradisional dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyenangkan. Di tengah gempuran teknologi dan maraknya kasus anak kecanduan gawai, permainan tradisional juga dapat mendorong anak untuk bergerak, menyusun strategi, bekerja sama, dan berempati terhadap sesama," jelasnya.

Pilar berharap kehadiran konsep tematik Kampung Dadap dapat menginspirasi kampung lain di Tangerang Selatan untuk mengembangkan kawasannya sebagai destinasi wisata unggulan.

Dony Martadisata, Managing Director President Office Sinar Mas Land menambahkan kehadiran Kampung Dolanan Khatulistiwa yang mengusung tagline ‘Bermain Gembira, Belajar Budaya’ ini, diharapkan membawa kegembiraan sekaligus melestarikan budaya permainan tradisional.

Kehadiran KADO KITA juga merupakan salah satu upaya Sinar Mas Land untuk memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan  perusahaan.

"Tidak hanya sarat nilai edukasi, kehadirannya melengkapi beragam program bina kampung yang dilaksanakan di Kampung Dadap, seperti pelatihan pertanian dan UMKM hingga penghijauan lingkungan," jelasnya.

Selain KADO KITA, Sinar Mas Land melalui program Corporate Social Responsbility (CSR) juga menghadirkan Taman Edukasi Kampung Dadap yang merupakan wadah dalam penghijauan lingkungan. Tujuannya untuk menata dan mewujudkan permukiman dengan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

"Dengan edukasi dan pendampingan secara intensif diberikan kepada warga masyarakat, warga didorong untuk menjadi pelaku sekaligus penggerak bagi pemberdayaan lingkungan di kampungnya sendiri," tambah Dony.

BANTEN
Paguyuban Tionghoa Banten Jajaki Kerja Sama Percepatan Sertifikasi Halal Bersama PHRI

Paguyuban Tionghoa Banten Jajaki Kerja Sama Percepatan Sertifikasi Halal Bersama PHRI

Senin, 21 September 2026 | 21:21

Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Banten menjajaki kerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk mendorong percepatan sertifikasi halal bagi anggota yang bergerak di bidang usaha kuliner.

OPINI
Menakar Tuan Baru Mesin Birokrasi

Menakar Tuan Baru Mesin Birokrasi

Jumat, 18 September 2026 | 20:40

Pergantian pimpinan di kementerian keuangan selalu menjadi diskursus publik yang sangat didominasi oleh analisis terkait stabilitas ekonomi makro dan fluktuasi pasar modal.

KAB. TANGERANG
Pemkab Tangerang Carikan Rumah Ibadah Sementara untuk Jemaat GKPI

Pemkab Tangerang Carikan Rumah Ibadah Sementara untuk Jemaat GKPI

Senin, 21 September 2026 | 19:33

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang akan memindahkan tempat ibadah untuk jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), yang berlokasi di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill