Connect With Us

Tangerang Marak Tawuran Antarpelajar, Ini Faktor Penyebabnya!

Fahrul Dwi Putra | Selasa, 18 Oktober 2022 | 18:41

Ilustrasi tawuran antarpelajar. (Fahrul Dwi Putra / @TangerangNews.com)

TANGERANGNEWS.com-Tawuran yang melibatkan pelajar masih kerap terjadi. Tangerang termasuk daerah penyumbang kasus tawuran antarpelajar. Setiap tahunnya pemberitaan tidak luput dari tawuran yang melibatkan pelajar Tangerang.

Perilaku menyimpang ini umumnya ditenggarai oleh tradisi turun-temurun antarsekolah, salah satunya yakni permusuhan SMK Bhipuri Serpong dan SMK Sasmita Jaya Pamulang. Dari tawuran tersebut berakibat pada jatuhnya korban jiwa.

Pemerintah daerah telah berupaya menanggulangi masalah yang menghinggapi kalangan remaja ini, mulai dari pembentukan satuan tugas, rencana menyediakan ring tinju resmi bagi pelajar yang hobi tawuran, hingga sosialisasi oleh pihak keamanan dengan cara mendatangi tiap-tiap sekolah.

Namun, upaya tersebut belum mendapat hasil yang signifikan. Pelajar di Tangerang masih saja kerap melakukan tawuran, seperti yang baru-baru ini terjadi di depan kantor Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang pada Jumat, 14 Oktober 2022.

Baca juga: Tawuran Pecah di Depan Kantor Kecamatan Cikupa Tangerang

Lalu, apa yang menyebabkan tawuran antar pelajar?

Dilansir dari merdeka.com pada Selasa, 18 Oktober 2022, ada beragam faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, tetapi setidaknya ada dua faktor yang menjadi faktor utama, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor Internal

Mengalami krisis identitas (identity crisis)

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, para pelaku tawuran pelajar umumnya merupakan sekelompok remaja yang sedang melakukan pencarian jati diri demi mendapat identitas. Identitas tersebut berupa pengalaman terhadap nilai-nilai yang akan mewarnai kepribadiannya. Para pelaku tawuran tersebut justru mengalami krisis identitas.

Baca juga: Gagal Tawuran, Sejumlah Anggota Gangster di Tangsel Diringkus

Remaja cenderung mengikuti perilaku figur yang sedang trend di lingkungannya. Jika remaja tidak mampu menginternalisasi nilai-nilai positif ke dalam dirinya, maka akan berakibat buruk. Berakibat pada penyimpangan perilaku yang berujung pada kekerasan. 

Memiliki kontrol diri yang lemah (weakness of self control)

Remaja memiliki ketidakstabilan emosi, emosi ini meliputi mudah marah, frustrasi, dan kurang peka terhadap lingkungan sosialnya. Ketidakmampuan menyelesaikan masalah secara rasional membuat remaja cenderung melarikan diri atau menghindari masalah dan lebih suka menyalahkan orang lain.

Baca juga: 12 Remaja Mau Tawuran di Jatiuwung Tangerang Diangkut Polisi, Ada yang Bawa Pedang

Karena itu remaja lebih senang menghadapi masalah dengan cara paling instan atau tersingkat.

Tidak mampu menyesuaikan diri (self mal adjustment)

Dinamika kehidupan yang makin beragam menuntut manusia untuk cepat beradaptasi, pelajar yang suka tawuran biasanya merupakan pelajar yang gagal menyesuaikan dirinya dalam lingkungan yang kompleks baik aneka ragam pandangan, ekonomi, budaya, dan perubahan lainnya.

Faktor Eksternal Penyebab Tawuran

Pengaruh media

Sebuah penelitian menyimpulkan media mampu mempengaruhi perilaku remaja menjadi lebih agresif. Meski, hal tersebut tidak menentukan kekerasan remaja langsung karena adanya kekerasan di media.

Lihat juga: Bacok Pelajar Sampai Jari Nyaris Putus saat Tawuran di Batuceper Tangerang, Sansan Ditangkap

Penelitian tersebut dilakukan oleh Research Institute of Moral Education, College of Psychology, Nanjing Normal University, Nanjing, China. Dalam penelitian tersebut salah satunya pada media video game selain meningkatkan perilaku agresif pun juga meningkatkan pikiran marah serta meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.  

Pengawasan Orang Tua Tidak Memadai

Peran orang tua sebagai pengawas utama sangatlah penting. Sebab, remaja tanpa pengawasan dari orang tua ata orang cenderung berperilaku agresif atau melakukan aktivitas kriminal hal ini lantaran tidak adanya sumber yang mampu memberikan pilihan yang baik dan bagaimana untuk mengenali risiko.

Ketika orang tua tidak memberikan pengawasan yang memadai, remaja cenderung akan melakukan perilaku agresif atau aktivitas kriminal. Tanpa pengawasan orang dewasa, remaja tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat pilihan yang baik atau untuk mengenali risiko.

Lihat juga: Tawuran Antarkelompok di Pamulang Tangsel Tewaskan Satu Orang

Remaja membutuhkan disiplin yang adil dan tegas serta interaksi yang konsisten dan arahan dari orang tua. Saat orang tua mengambil peran aktif dalam kehidupan remaja mereka, itu mengurangi kemungkinan kekerasan remaja.

Tekanan teman sebaya

Faktor selanjutnya adalah karena adanya tekanan. Hal tersebut lantaran remaja yang biasanya tidak agresif ketika berada dalam suatu kelompok akan mendapat perlakuan seperti ‘kacung’. Oleh sebab itu mungkin saja remaja tersebut melakukan kekerasan demi mempertahankan tempat mereka dalam kelompok. Pengaruh tekanan teman sebaya dapat membuat remaja terlibat dalam perilaku pengambilan risiko.

Lihat juga: 30 Sekolah di Kota Tangerang Deklarasi Anti Tawuran

Komunitas dan Lingkungan

Lingkungan menjadi salah satu aspek penting dalam  tumbuh kembang remaja dalam masa pencarian identitasnya.

Penelitian dari American Psychologist menunjukkan bahwa kekerasan remaja dapat menjadi bentuk "keadilan jalanan" sebagai jawaban atas kurangnya perlindungan polisi di beberapa lingkungan. 

Lihat juga: Efek Jera, Siswa yang Tawuran di Tangsel Dikeluarkan dari Sekolah

Remaja tersebut kemudian berusaha seolah mengamankan lingkungan, tetapi cara yang digunakan ialah kekerasan meski tujuan awalnya hanya menertibkan daerah yang menurutnya merupakan daerah kekuasaannya. Akibatnya, hal tersebut seringkali berubah menjadi kekerasan geng, perang wilayah, perang menggunakan senjata, dan jenis kekerasan lainnya.

Itulah beberapa faktor yang menyebabkan tawuran seringkali melibatkan remaja atau pelajar, berbagai pihak dari lapisan manapun baik dari orang tua, pendidik maupun kalangan pihak keamanan harus bekerja sama bahu membahu menanggulangi hal ini sehingga dapat terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi para pelajar dalam masanya menuntut ilmu.

BISNIS
GIIAS 2026 Dibuka Besok di ICE BSD, Cek Harga Tiket, Akses Jalan dan Titik Parkir

GIIAS 2026 Dibuka Besok di ICE BSD, Cek Harga Tiket, Akses Jalan dan Titik Parkir

Rabu, 29 Juli 2026 | 18:02

Pameran otomotif terbesar di Indonesia, GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, kembali hadir di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Kabupaten Tangerang, pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026.

MANCANEGARA
Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Ameba Pemakan Otak Mulai Muncul di Berbagai Negara, Ilmuwan Khawatir Kasus Terus Bertambah

Selasa, 14 Juli 2026 | 13:48

Kematian Jordan Smelski, bocah berusia 11 tahun asal Amerika Serikat, akibat infeksi langka yang disebabkan Naegleria fowleri atau “ameba pemakan otak”, kembali menjadi sorotan setelah para ilmuwan memperingatkan potensi penyebaran organisme tersebut

WISATA
Festival Cisadane 2027 Bidik Target 10 Besar Karisma Event Nusantara

Festival Cisadane 2027 Bidik Target 10 Besar Karisma Event Nusantara

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:46

Penyelenggaraan Festival Cisadane 2026 Kota Tangerang resmi berakhir dengan antusiasme masyarakat yang meriah.

KAB. TANGERANG
Tahanan Kasus Pencabulan Tangerang Gandir di RS Polri, IPW Soroti Dugaan Kelalaian Pengawasan

Tahanan Kasus Pencabulan Tangerang Gandir di RS Polri, IPW Soroti Dugaan Kelalaian Pengawasan

Rabu, 29 Juli 2026 | 19:39

Seorang tahanan Polresta Tangerang berinsial SW, 49, tewas setelah nekat gantung diri di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Minggu ‎26 Juli 2026, lalu.

""Kekuatan dan perkembangan datang hanya dari usaha dan perjuangan yang terus menerus""

Napoleon Hill